*Jejak Situs di Depan Fort Rotterdam
JEJAK perjalanan sejarah Makassar semakin memiriskan. Bahkan terancam punah.
***
SEJUMLAH kendaraan berlalu lalang di sepanjang Jalan Ujung Pandang. Tepat di seberang Fort Rotterdam berdiri sebuah tugu atau monumen berwarna putih. Bentuk tugu itu menyerupai sebuah pilar dengan sebuah tulisan “Pahlawan Indonesia”.
Tugu setinggi sekira lima meter ini dikeliling pagar seng bercat biru. Tampaknya di dalamnya akan dibangun sebuah bangunan baru. Ini terlihat dari tulisan “dilarang masuk” berwarna merah.
Tidak banyak warga yang tahu kalau pada masa lampau, beberapa ratus tahun lalu di tempat itu berdiri sebuah mercusuar buatan Belanda. Namun kini, sisa-sisa fisik bangunan tersebut sama sekali tidak ada.
Dikisahkan salah seorang staf dokumentasi dan publikasi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Makassar, Mohammad Natsir, pembangunan mercusuar tersebut berlangsung pada masa pendudukan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda di Benteng Ujungpandang (Fort Rotterdam).
“Pendudukan VOC di Benteng Ujung Pandang dimulai pada tahun 1627, baru kemudian mengganti nama benteng menjadi Fort Rotterdam,” tutur Natsir menjelaskan.
Saat itu, Bandar Somba Opu diruntuhkan, sehingga aktivitas perdagangan berpusat di Pelabuhan Makassar. Mengingat kekuatan VOC di bidang perdagangan harus melalui jalur laut, maka di jaman itu diadakan pembangunan besar-besaran untuk kelengkapan fasilitas Pelabuhan Bandar Makassar (sekarang Pelabuhan Soekarno Hatta). Di antaranya seperti beberapa gudang penyimpanan serta mercusuar di depan bangunan Benteng Fort Rotterdam.
Mercusuar itu dibangun sebagai tempat untuk memantau jalannya alur lalu lintas perdagangan laut Makassar. Sengaja ditempatkan di depan Benteng Fort Rotterdam untuk memudahkan VOC dalam melakukan pemantauan.
“Mercusuar tersebut merupakan salah satu bagian terpenting dalam kegiatan perdagangan Pelabuhan Bandar Makassar,” ucap Natsir, Jumat, 7 Januari.
Dia menyebutkan, tidak ada data pasti mengenai tahun dimulainya pembangunan mercusuar tersebut.
Dengan proses pemantauan yang aktif dan terarah, tak heran bila VOC berhasil menjadikan Pelabuhan Makassar menjadi sebuah pelabuhan bebas. Pada jaman itu, sekitar abad 18-19, Pelabuhan Makassar sedang berada pada masa kejayaannya.
Pada masa itu, tingkat pertumbuhan ekonomi sedang dimulai. Ini ditunjukkan dengan dibangunnya sebuah bank di Jalan Nusantara, pada tahun 1900-an. Bank Javanese tersebut juga menjadi salah satu bagian dari perjalanan sejarah Kota Makassar.
Sayangnya kejayaan Pelabuhan Makassar pada waktu itu tidak berlangsung sampai sekarang. Natsir menyebutkan, nilai historis kota jangan sampai dihilangkan, karena ini merupakan salah satu kunci Makassar untuk menuju kota dunia.
Kini, tugu itu sepertinya terancam keberadaannya dengan pagar seng yang mengitarinya. Di sekitarnya pun kini sedang berlangsung pembangunan yang lainnya. Entah berapa bukti sejarah Makassar lagi yang akan hilang dan punah. (*)
Jalan Ujung Pandang, Makassar
07 Januari 2011
Jumat, 07 Januari 2011
Minggu, 02 Januari 2011
Belajar Mandiri Sejak Dini untuk Hari Depan
*Menengok Aktivitas Panti Asuhan dan Panti Werdha Pangamaseang
BERBAGI kasih dengan anak-anak yang mengalami luka masa lalu. Demikian tujuan pembangunan Panti Asuhan dan Panti Werdha Pangamaseang.
***
SEBUAH bangunan berpagar putih berdiri kokoh di sebuah sudut jalan Baji Gau II. Dua remaja putri terlihat sedang sibuk menyapu halaman bangunan tersebut. Gemerisik sapu lidi dari tangan keduanya yang menyapu tanah menandakannya.
Panti Asuhan dan Panti Werdha Pangamaseang. Demikian yang tertera di sebuah papan penunjuk di atas pagar.
Saat saya mendekati pagar dan mengetuk-ngetuk gerendel pagar, kedua remaja itu spontan berbalik secara bersamaan. Aktivitas mereka terhenti sejenak sambil memperhatikan kedatangan saya.
“Lewat samping ki’ kak,” salah seorang di antaranya memberitahukan jalan masuk kepada saya.
Di sebelah kanan pagar saya menapaki sebuah jalan sepanjang lima meter. Seorang penghuni panti kembali saya dapatkan. Kali ini seorang wanita yang berjalan tertatih-tatih dengan bantuan alat penyangga. Rambutnya yang sebahu tampak memutih.
Saya kemudian menanyai sang wanita. “Ada Pastor, Bu?”
Wanita itu terdiam sejenak, tampak berpikir. “Mungkin ada di dapur,” jawabnya kemudian sambil menunjukkan arah yang dimaksud.
Saat mendekati pintu dapur, tiba-tiba si wanita berkata lagi. “Atau coba cari di kamarnya, itu di sana,” ujarnya tampak kebingungan.
Saya kemudian menuju sebuah bangunan seukuran kamar yang dimaksud wanita tadi. Semakin mendekat, dari jendela kamar tersebut saya dapat melihat sosok seseorang yang sedang sibuk menekuni kegiatannya di balik sebuah komputer. Dialah sang pastor yang saya cari.
Saya menuju pintu kamar itu sambil mengetuk. “Selamat pagi, Pastor,” ujar saya menyapa.
Dari dalam terdengar sahutan, “Ya.” Jawaban itu diiringi suara langkah-langkah mendekati pintu.
Pintu terbuka, dan seraut wajah yang cukup familiar muncul. Pastor Van Rooij, demikian sosok ini dikenal di kalangan umat Katolik di Makassar.
Sang Pastor kemudian menyilakan saya masuk ke ruangan yang ternyata sebuah ruang kerja.
“Mari masuk ke kandang Betlehem, tapi ini sangat rantasa’,” ajak Pastor berdarah Belanda ini.
Meskipun keturunan luar negeri, Van Rooij sangat fasih menggunakan dialek Makassar. Bagaimana tidak? Pastor ini sudah 42 tahun bermukim di Indonesia, tepatnya di Keuskupan Agung Makassar.
Van Rooij adalah pendiri sekaligus pembina dari kedua panti yang saya kunjungi ini. Panti Asuhan dan Panti Werdha Pangamaseang. Meskipun berada dalam satu area, keduanya tidak berdiri secara bersamaan.
Dikisahkan Van Rooij, panti tersebut dulunya adalah sebuah pabrik roti. Entah sejak kapan bangunan tersebut berdiri di Jalan Baji Gau.
“Pada tahun 1995, panti asuhan ini mulai dibangun,” kenang Van Rooij sambil megajak saya menuju ke dalam area panti. Pembangunan panti ini sebagai salah satu bentuk sifat sosial sang Pastor.
Saat melewati dapur, beberapa remaja putri dan putra sedang sibuk memasak. Ada yang memotong-motong sayur, ada yang menggoreng tempe dan tahu.
Diungkapkan Van Rooij, pembangunan Panti Asuhan dan Panti Werdha Pangamaseang bermula dari perbincangannya dengan mantan Uskup Agung Makassar, Alm. Mgr Frans van Roessel.
“Dia kemudian memberi dorongan kepada saya untuk mendirikan Yayasan Sosial Keuskupan Agung Makassar dan mengambil inisiatif untuk memulai sebuah panti asuhan,” urai dia mengisahkan.
Pembangunan panti kemudian dapat berjalan lancar berkat bantuan dari segenap umat Keuskupan Agung Makassar. Tak hanya itu, lanjut Van Rooij, banyak anggota masyarakat yang bermukim di sekitar panti juga turut memberikan dukungan dalam pembangunan panti asuhan tersebut.
“Saya merasa bersyukur karena dapat membahagiakan anak-anak yang membutuhkan kasih sayang dan cinta kasih ini,” tutur mantan Vikaris Episkopal Makassar ini.
Diakuinya, perasaan anak-anak tersebut dapat dipahaminya, karena sejak kecil Van Rooij telah ditinggal mati sang ayah, Alm Marinus Van Rooij. Dengan bimbingan sang ibu, Petronella Hoorn, Van Rooij akhirnya dapat tumbuh menjadi pribadi yang senang memberikan pelayanan sosial.
Sampai saat ini, Panti Asuhan dan Panti Werdha Pagamaseang telah mengasuh puluhan anak. Baik yang yatim piatu, maupun yang tidak diperhatikan dan dibuang keluarganya.
“Sekarang anak-anak di sini ada 25 orang,” jelas sang pembina. Anak-anak tersebut berkisar pada usia taman kanak-kanak hingga ada yang sudah di bangku kuliah.
Pengelola Panti Asuhan Pangamaseang, Suster Yosephine Palit YMY, menjelaskan, mereka berasal dari beragam suku dan daerah yang ada di Indonesia. Ada yang dari Toraja, Muna, Ambon, dan bahkan ada yang dari Papua.
“Mereka datang ke panti kebanyakan dibawa oleh para pastor paroki di daerah masing-masing,” ucap Van Rooij menjelaskan. Ada pula anak-anak yang dibawa langsung oleh keluarga yang tidak mampu lagi mengurusnya.
“Banyak anak di sini yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga oleh keluarga mereka sendiri,” sela Sr Yosephine. Dia menunjukkan salah seorang anak yang masih TK yang berasal dari Flores sebagai contohnya.
Diuraikan Sr. Yosephine anak tersebut sering mendapat perlakuan kasar dari orang tuanya. “Dulu waktu masih di Flores dia sering dipukul bahkan sampai disileti,” tutur Sang Suster dengan mata berkaca-kaca.
Selama di panti, ke semua anak tersebut disekolahkan dan diberikan beragam pengetahuan tambahan. Mereka juga tak lupa dibina untuk mulai mandiri sejak usia dini.
“Setiap hari mereka dibiasakan membersihkan area panti, serta membantu di pabrik lilin,” ujar Van Rooij saat mengajak saya memasuki pabrik lilin yang terletak di dalam area panti.
Di dalam ruangan tersebut terdapat beberapa karung bahan baku lilin. Di rak yang berada di bagian dalam terdapat deretan lilin aneka warna dan bentuk.
Selain itu, anak-anak panti juga diberikan dorongan untuk mendapatkan nilai yang baik dalam ujian di sekolah. Salah satu contohnya saat Natal kemarin, mereka dijanjikan akan diberikan insentif oleh Pastor Van Rooij bila tidak mendapat nilai merah di raport.
“Puji Tuhan dengan dorongan seperti itu, nilai mereka jadi membaik,” ucap Van Rooij penuh syukur.
Dijelaskan Van Rooij, saat ini sudah lebih dari sepuluh anak yang telah mandiri dan memiliki pekerjaan masing-masing. Mereka bahkan saat ini sudah tinggal sendiri di luar panti.
Untuk memperhatikan kesehatan seluruh “anaknya”, dalam waktu dekat Van Rooij juga merencanakan untuk menyewakan rumah untuk perawat bagi mereka di sekitar panti. Tujuannya agar dapat mengontrol kesehatan mereka lebih cepat.
“Satu yang saya harapkan, agar ke depan mereka dapat berhasil dan tidak lagi mengingat luka masa lalu dan masa kecil yang dialaminya dulu,” kunci Pastor yang menjuluki dirinya “Monyet Putih” ini. (*)
Baji Gau, Makassar 21 Desember 2010
Langganan:
Komentar (Atom)
