Minggu, 12 Desember 2010

Ketika Anjing Berunjuk Gaya

Tak sekadar piaraan, anjing juga bisa menjadi sahabat manusia. hewan berkaki empat ini pun bisa menghasilkan uang yang berlimpah.


Riuh gonggongan anjing memenuhi main hall Mal Graha Tata Cemerlang (GTC), Minggu, 12 Desember kemarin. Sebuah area beralaskan karpet berwarna hijau tampak dikelilingi beberapa kotak penyimpanan anjing.

Di beberapa sudut area tersebut nampak beberapa orang sedang sibuk menyisir dan membersihkan anjing piaraannya. Di sisi lain tampak beberapa pengunjung menyempatkan diri mengabadikan gambar dari berbagai anjing yang lucu tersebut.

Sepanjang dua hari kemarin, pengunjung Mal GTC memang mendapatkan hiburan yang berbeda. Di hari itu sedang berlangsung Pameran Anjing (dog show) Multi Trah. All Breed: Makassar 2nd Dog Show 2010, demikian tema even ini.

Even ini merupakan ajang yang dilaksanakan oleh Perkumpulan Kinologi Indonesia (PERKIN). Ada 78 ekor anjing dari seluruh Indonesia yang hadir memeriahkan even ini.

Beragam jenis anjing dari ukuran mini sampai yang super jumbo berkumpul dan menunjukkan tingkah yang lucu dan menggemaskan. Mulai dari jenis dobermann, golden retrievier, rottweiler, chihuahua, poodle, shihtzu, hingga pomeranian ada di ajang ini.

Tingkah pola hewan berkaki empat tersebut tak jarang mengundang gelak tawa. Seperti saat beberapa ekor golden retrievier yang tiba-tiba membuang kotoran di tengah arena ketika sedang dinilai oleh juri.

Ada lagi seekor anjing pomeranian yang tidak mau mengikuti perintah sang majikan untuk berlari mengelilingi arena. Anjing kecil tersebut tiba-tiba bersemangat ketika seekor anjing besar masuk di arena, sehingga mereka saling berkejaran.

Anjing-anjing ini tak sekadar pamer aksi dan gaya di tengah arena. Ada penilaian khusus yang diberikan setiap juri yang hadir ke setiap anjing yang tampil.

“Penilaiannya seperti pemeriksaan susunan gigi, kondisi bulu, serta keaktifan si anjing tersebut,” tutur Ronny Wirawan selaku ketua panitia acara ini. Dia melanjutkan, setiap anjing memiliki kriteria masing-masing, mulai dari tingginya, berat, dan bulunya.

Juri yang datang menilai pada even ini pun tidak asal pilih. Di antaranya Graham Kerr dari Australia, Andi Hudono, dan Agus Wardhana. Ketiganya telah berpengalaman di bidang hewan khususnya jenis anjing.

Ronny mengungkapkan, ajang ini diadakan tidak hanya untuk menggalakkan kecintaan terhadap anjing. Melalui even ini PERKIN mengharapkan agar anjing jenis Trah dapat diangkat dan dikenal secara umum.

Anjing dikenal sebagai salah satu satwa yang paling setia, maka tak heran bila banyak orang yang ingin dan gemar memliharanya. Namun, untuk membesarkan anjing, butuh perawatan yang ekstra serta tentunya biaya yang tidak sedikit.

Seperti yang diungkapkan salah seorang peserta dari Bandung, Jesselyn. Dalam pameran ini, dia memboyong dua anjing untuk ikut lomba.

“Setiap hari harus diberi makanan yang cukup dan sesuai, selain itu perlu dimandikan setiap tiga hari sekali,” urai wanita berkulit putih ini. Untuk menjaga bulu anjingnya tetap indah, Jesselyn selalu menyisir dan menyemprotnya dengan spray khusus.

Setelah menunjukkan aksi dan mendapat nilai dari setiap juri, anjing yang mendapat nilai tertinggi akan memperoleh hadiah dan trophy yang disiapkan panitia.

“Jadi bagi anjing-anjing yang sudah tiga kali memenangkan best in show dengan juri yang berbeda, berhak untuk menyandang gelar Indonesian Champion yang akan dilampirkan pada akte lahirnya,” urai Ronny.

Tak sekadar mendapat gelar, anjing tersebut akan mendapatkan gengsi yang tinggi di kalangan anjing lainnya. Tanpa harus menjualnya, anjing tersebut sudah bisa mengisi pundi-pundi sang pemilik.

Seperti misalnya ada anjing milik orang lain yang ingin dikawinkan dengan anjing tersebut. “Bisa saja si pemilik Anjing dengan gelar tersebut akan mematok harga tertentu dulu,” tukas pria berkaca mata ini. (*)

Makassar, 12 Desember 2010

DAS Butuh Perda dan Masyarakat Adat

Catatan dari Journalist Trip 3
Permasalahan DAS saat ini Cuma berada di tangan pemerintah. Seharusnya masyarakat adat turut dilibatkan dalam hal ini.


Kekeruhan aliran Sungai Sa’dan tampaknya menunjukkan kekeruhan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) Sa’dan. Tak hanya Tana Toraja yang merasa tidak memperoleh cukup keuntungan sebagai daerah hulu. Toraja Utara pun mengharapkan hal yang sama.

Carut-marut pengelolaan DAS tersebut dikatakan seorang pria bertubuh gempal yang kami temui di salah satu ruangan di Kantor Bupati Toraja Utara akibat tidak adanya perda (peraturan daerah, red.) yang jelas. Pria yang dimaksud adalah Drs Ek Lewaran Rantela’bi, MH, yang tidak lain adalah Sekretaris Daerah Toraja Utara.
Toraja Utara adalah sumber air untuk beberapa daerah. Demikian diungkapkan Lewaran kepada Tim Journalist Trip.

“Toraja Utara sama sangat sulit menikmati air akibat persawahan di sini yang posisinya lebih tinggi dari aliran sungai,” ungkapnya.

Seperti Tana Toraja, kontur daerah di Toraja Utara juga berbukit-bukit. Akibatnya, penduduk setempat terpaksa membuka lahan sawah di ketinggian.

Menurut Lewaran, sudah semestinya bila kabupaten-kabupaten yang merasakan manfaat dari DAS Sa’dan dapat memberikan bantuan kepada Toraja Utara. Setidaknya, lanjut dia, kabupaten-kabupaten tersebut memberikan bantuan berupa biaya pembibitan untuk lahan kritis.

“Saat ini, pemda tidak lagi melibatkan komunitas masyarakat adat dalam hal pemerintahan,” tutur pria yang juga merupakan Ketua Dewan Pengurus Aliansi Masyarakat Adat (AMA)Toraya. Padahal dulunya masyarakat adat sangat dihormati pendapat-pendapatnya dalam melakukan suatu hal.

Dikisahkan Lewaran, dahulu ketika akan diadakan penebangan pohon, seluruh warga harus berkumpul bersama. Istilahnya mengadakan musyawarah atau rembug warga terlebih dahulu.

“Masalah hutan dulu harus dipilih-pilih mana pohon yang sudah layak atau sesuai umurnya untuk dijadikan rumah,” tutur Lewaran mengingat masa lalu. Sekarang, dengan kemajuan teknologi mengakibatkan meningkatnya pembalakan hutan secara liar.

Salah satu dampak nyata tidak terasanya manfaat DAS di Toraja (Tana Toraja dan toraja Utara) adalah sampai saat ini belum pernah menjadi swasembada pangan. Meskipun mengelola sawah, Toraja masih selalu mendapat tambahan beras dari luar.
“Apalagi sekarang, di mana masyarakat Toraja sudah menjadi konsumtif, tidak lagi produktif,” sesal Lewaran.

Akibat tidak adanya ketegasan pemerintah dalam menyikapi penebangan pohon, dan tidak dilibatkannya masyarakat adat dalam hal ini menyebabkan banyaknya kasus lahan kritis di Toraja.

“Agar tidak terjadi translok perambahan hutan, sebaiknya masyarakat dimanfaatkan dan diberdayakan oleh pemerintah. Ini kan sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat,” tutur Lewaran.

Sampai saat ini, masih banyak masyarakat Toraja yang bermukim di kawasan hutan. Ini disebabkan tanah yang didiaminya adalah tempat tinggal nenek moyang mereka secara turun-temurun.

“Ini semua karena tidak adanya kejelasan batas tapal hutan dari dinas terkait (Dishutbun, red.),” urai Lewaran. (*)

Rantepao – Toraja Utara

Ada Miss Komunikasi antara Dishutbun dan BP-DAS Sa’dan

Butuh kerja sama dari semua pihak demi mengatasi permasalahan daerah aliran sungai. Demikian halnya di DAS Sa’dan.

Sebuah ornamen atap Tongkonan (rumah adat Toraja, red.) menyambut kedatangan kami di sebuah bangunan yang berlokasi di Kota Makale, Tana Toraja. Untuk memasuki halaman gedung ini, harus melalui jalur dengan kemiringan sekira -30 derajat.

Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Saddang. Demikian tulisan yang tertera di papan penanda gedung di Jalan Pongtiku nomor 155 ini.

Kali ini kami diterima dua orang wanita dan seorang pria yang merupakan staf BP-DAS Sa’dan. Mereka adalah Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Ir Yosranita Rante. Selanjutnya ada Ir Yosephine Matandung, selaku Kepala Seksi Evaluasi DAS. Dan yang terakhir Suleman Patiung, salah seorang staf Seksi Kelembagaan.

Kami kemudian diantar ke sebuah ruangan yang terletak di lantai dua gedung ini. Di dalam sudah tersedia kursi yang berbentuk melingkar. Sepertinya ini memang sebuah ruang rapat/pertemuan.

″Terima kasih sudah bersedia mengunjungi kami. Sebelumnya kami mohon maaf, karena kami sudah menyiapkan bahan presentase mengenai BP-DAS Sa’dan. Tapi sepertinya saat ini tidak bisa ditampilkan berhubung listrik sedang padam,” ujar Suleman membuka pertemuan.

Hari itu memang listrik sedang padam. Ironis betul, karena Tana Toraja sebagai daerah hulu yang menjadi salah satu pemasok air ke Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bakaru malah masih sering terjadi pemadaman listrik.

Kembali ke BP-DAS Sa’dan, Suleman menjelaskan, kantor ini membawahi delapan kabupaten di Sulsel yang menjadi wilayah kerjanya. Kedelapannya adalah Tana Toraja, Toraja Utara, Enrekang, Pinrang, Luwu, Palopo, Luwu Utara, dan Luwu Timur.

″Sebagian daerah di Mamasa juga menjadi wilayah kerja kami, yakni di bagian Timur dan Selatan,” tambah Suleman.

Diuraikan Suleman, BP-DAS Sa’dan memiliki tugas pokok dalam melaksanakan penyusunan rencana, pengembangan kelembagaan, dan evaluasi pengelolaan data-data tentang DAS sa’dan.

″Di sini kami juga melakukan evaluasi tata air, seperti tingkat kekeruhan air dan penutupan lahan,” ujar Yosranita menambahkan.

Di tengah perbincangan mengenai DAS Sa’dan, ketiga pejabat BP-DAS Sa’dan tersebut mengutarakan bahwa ada sebuah forum yang dibentuk untuk mewadahi permasalahan DAS ini.

Pernyataan ini menjadi membingungkan kami, karena sejam sebelumnya masih di kota yang sama, kami mendengarkan pernyataan sebaliknya.

″Maaf pak, apa benar sudah ada Forum DAS Sa’dan? Karena di Dishutbun (dinas kehutanan dan perkebunan) kami diberitahu bahwa sampai saat ini belum ada forum yang terbentuk,” ujar salah seorang fasilitator dari The Green Foundation, Husniaty.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Yosephine menjelaskan, Forum DAS Sa’dan sudah terbentuk sejak beberapa bulan lalu. Beberapa fungsi yang dijalankan forum ini adalah sebagai fasilitator para stakeholder dan pemetaan partisipatif tingkat ekonomi masyarakat di suatu wilayah.

Forum tersebut juga sudah dianggarkan ke dalam APBD Luwu Utara, Palopo, dan Luwu. ″Salah satu kegiatan yang telah terlaksana melalui forum ini adalah Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL),” tambah Yosranita.

Untuk memantau kondisi suatu lahan, pada outlet di setiap DAS dan sub-DAS dipasangi stasiun pengamat aliran sungai (SPAS). Dampak aktivitas yang dilakukan di lahan tersebut juga dipantau dengan alat tersebut.

Hasil pemantauan tersebut nantinya akan dikomunikasikan dengan masyarakat setempat, dan pemerintah pada forum. ″Utamanya bagi masyarakat yang melakukan aktivitas yang mempengaruhi lahannya, seperti perambahan hutan,” lanjut Yosephine.

Dalam mengatasi permasalahan DAS ini, partisipasi masyarakat memang sangat menentukan. Namun BP-DAS Sa’dan mengeluhkan, hal ini pulalah yang sampai saat ini menjadi kendala utama.

Ke depannya, Tana Toraja diharapkan menjadi prioritas dalam rehabilitasi lahan kritis. ″Tana Toraja kan daerah hulu, jadi perlu rehabilitasi lahan demi melancarkan fungsi DAS,” tutur Suleman.

Forum DAS Sa’dan sampai saat ini belum memberikan hasil yang maksimal. Masing-masing pihak yang termasuk di dalamnya belum merasa memiliki kepentingan terkait usaha rehabilitasi lahan maupun penghijauan.

Selain masalah di lapangan, ternyata BP-DAS Sa’dan juga masih memiliki masalah internal. Untuk mengurus luas wilayah kerja yang mencapai 3.912.750 Ha, BP-DAS Sa’dan masih terbilang kekurangan staf.

″Saat ini komposisi pegawai di sini hanya sebanyak 47 orang,” tandas Yosephine.
Demi mendukug kinerja BP-DAS Sa’dan, kembali lagi diperlukan kerja sama dari pihak masyarakat. Untuk itulah forum DAS dibentuk (bersambung)

Makale – Tana Toraja

Menelusuri Pengelolaan DAS Sa’dan di Dinas Kehutanan Tator

Sebagai sesama daerah aliran sungai, kiranya terjalin kerja sama yang baik. “Tidak perlu muluk-muluk, kami cuma butuh dedak…”


Kabut masih memenuhi pandangan ketika mobil yang ditumpangi rombongan Journalist Trip dari Makassar memasuki Bumi Lakipadada. Sepanjang jalur yang dilalui terbentang pemandangan serba hijau, dengan hiasan persawahan penduduk serta beberapa bukit yang menjulang.

Tiga mobil yang mengangkut kami akhirnya tiba di tujuan pada pukul 08.30 WITA. Jadwal hari ini adalah kunjungan ke Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) serta Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Sa’dan, Tana Toraja.

Rombongan kemudian beristirahat sejenak di ibu kota Toraja Utara, Rantepao. Sebagian anggota memanfaatkan waktu yang singkat untuk menyantap sarapan mi instan yang disiapkan salah seorang pendamping, Sitti Hadjar Akbar. Peserta yang lainnya memilih tidur.

Setelah beristirahat sekira 1,5 jam, para peserta meninggalkan peristirahatan. Tujuan selanjutnya ke Kota Makale, sesuai jadwal dari yang disiapkan panitia.
Yang pertama kami kunjungi adalah Kantor Dishutbun Tana Toraja. Dengan kata lain kami harus kembali melalui jalur yang sebelumnya.

Selama perjalanan, kami sempat menemui antrean panjang puluhan mobil di daerah Rantelemo. Mobil-mobil tersebut mengantre untuk mendapatkan jatah bensin di pompa bensin terdekat.

Kami juga dapat menyaksikan pemandangan serba hijau, serta aliran Sungai Sa’dan. Sungai yang kerap menjadi tujuan penggiat alam bebas untuk rafting ini tampak berwarna kecokelatan. Dari kejauhan, sungai ini terlihat lebih dangkal dibanding beberapa tahun lalu ketika saya berkunjung.

Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Kantor Dishutbun Tana Toraja. Letaknya tidak terlalu jauh dari kolam yang menjadi pusat Kota Makale.

Di gedung tersebut telah menanti Kadang, S.Hut, selaku Kepala Bidang Perlindungan dan Bina Hutan Dishutbun Tana Toraja. Pria berambut lurus ini memang ditugaskan untuk mendampingi kami.

Salah seorang fasilitator, Salma memulai perbincangan dengan memperkenalkan tim kepada tuan rumah.

Setelah kami memperkenalkan diri satu per satu, Kadang kemudian berbagi cerita kepada kami mengenai beberapa permasalahan yang berkaitan dengan DAS Sa’dan. Dimulai dari penjelasan kawasan hutan di Tana Toraja.

“Data pembagian hutan di sini berdasarkan fungsi kawasannya,” ujar Kadang. Yang dimanfaatkan sebagai fungsi hutan lindung seluas 90.905,533 hektare. Selanjutnya pada fungsi produksi terbatas (HPT) seluas 20.174,914 hektare.

”Selain itu ada pula jenis hutan rakyat, di mana pohon-pohon tumbuh di atas tanah milik rakyat,” lanjut pria ini.

Jenis hutan rakyat memang masih banyak ditemui di Tana Toraja, mengingat banyak masyarakat yang telah tinggal di tanah leluhurnya secara turun temurun. Sementara tanah tersebut berada di dalam kawasan hutan. Fenomena ini kemudian menjadi salah satu penyebab terjadinya kekritisan lahan.

Dijelaskan Kadang, beberapa masyarakat yang bermukim di kawasan hutan melakukan perambahan hutan secara besar-besaran untuk membangun kebun.

”Kami belum memiliki data pasti tentang jumlah kawasan hutan yang dijadikan kebun. Namun berdasarkan pantauan di lapangan memang sudah banyak yang terlihat,” urai Kadang.

Dishutbun Tana Toraja mendata, seluas 43.766 hektare kawasan hutan lindung berada dalam status sangat kritis. Sementara HPT yang berstatus sangat kritis seluas 12.242 hektare.

Dengan status demikian, kata Kadang, lahan tersebut perlu mendapat perhatian khusus. ”Dengan kata lain lahan sangat kritis perlu direhabilitasi,” ujarnya.

Demi mengurangi jumlah lahan kritis, ke depannya Dishutbun Tana Toraja akan membatasi para perusahaan kayu dalam beroperasi. Untuk melakukan penebangan pohon, harus memenuhi bebeapa syarat yang ditentukan.

”Di antaranya posisi kemiringannya, maupun diameter pohon yang akan ditebang,” jelas Kadang. Ia menambahkan, setiap pohon yang siap tebang akan diberi label khusus terlebih dahulu, yang membedakannya dengan pohon lainnya.

Selain permasalahan lahan kritis, Kadang juga mengungkapkan adanya masalah lain yang dialami Tana Toraja terkait DAS. Sebagai daerah hulu, selaiknya Tana Toraja dapat menikmati manfaat lebih. Tapi tidak demikian.

Salah satunya mengenai pemanfaatan untuk air minum (PAM). ”Saat ini masyarakat yang bisa menikmati PAM masih terbatas,” ujar Kadang.

Perlu diketahui bahwa wilayah DAS Sa’dan meliputi Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Luwu, Kota Palopo, Kabupaten Luwu Utara, dan Kabupaten Luwu Timur.

Selain masalah air minum, sawah di Tana Toraja juga mengalami kesulitan dalam hal pengairan. Hal ini akibat topografi Tana Toraja yang berbukit-bukit dan berada di kemiringan.

“Sebagai daerah hulu, kami sangat mengharapkan adanya subsidi silang dengan daerah hilir yang banyak mendapatkan manfaat dari DAS Sa’dan,” tutur kadang.
Salah satu hubungan timbal balik yang diharapkan Kadang adalah penggratisan dedak padi dari daerah-daerah hilir penghasil padi.

“Tidak perlu muluk-muluk, kami hanya butuh dedak,” ungkap Kadang. Bagi masyarakat Tana Toraja, dedak dimanfaatkan sebagai pakan ternak (babi).

Kalau tidak bisa gratis, lanjut Kadang, paling tidak harganya di bawah standar. ”Mereka kan sudah merasakan banyak manfaat dari DAS Sa’dan,” tuturnya.

Salah satu jalan keluar yang diinginkan adalah dengan membentuk suatu forum khusus DAS Sa’dan.

Forum yang dimaksud berupa wadah untuk berbagi / sharing terkait masalah DAS. Dengan forum tersebut diharapkan terjadinya simbiosis mutualisme antara daerah hulu dan hilir.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Itu menandakan waktu kunjungan kami telah habis.

Mengingat masih ada jadwal selanjutnya, tim kemudian memohon diri untuk melanjutkan perjalanan. (bersambung)

Makale-Tana Toraja

Selasa, 16 November 2010

Memaknai Sumpah Pemuda Melalui Sastra

BANYAK cara mengekspresikan makna Sumpah Pemuda. Melalui pesan-pesan sastra juga bisa.

***

SEJUMLAH tenda memenuhi area Benteng Somba Opu, Rabu, 27 Oktober 2010. Sebuah baliho sekira 24 meter persegi menjadi penanda sedang berlangsungnya suatu kegiatan di tempat itu. Di situ terpampang tulisan “Perkampungan Seni Budaya dan Bahasa (Persada Hitam Putih)".

Ini bukan perkampungan biasa. “Penduduknya” adalah siswa dan siswi tingkat sekolah menengah atas dan sederajat dari sejumlah kabupaten di provinsi ini. Dalam beberapa hari, di tenda-tenda itulah para siswa dan siswi itu menginap.

Perkampungan ini dibuat khusus oleh Bengkel Sastra (Bestra) Dewan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (FBS UNM).

Dekan FBS UNM, Dr H Mansur Akil MPd, mengatakan, pihak dekan memberi support dan all out terhadap kreasi seperti ini. Mansur menyatakan, FBS ikut bertanggung jawab membina bahasa. “Salah satunya melalui kegiatan-kegiatan kebangsaan yang berisi muatan sastra dan budaya,” kata Mansur.

Ketua Panitia Persada Hitam Putih, Ririn Anggreani, mengatakan, pelaksanaan kegiatan ini dirangkaikan dengan Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda. Esensinya, sela Mansur, Persada Hitam Putih bertujuan mengajak generasi muda memaknai Sumpah Pemuda secara hakiki. Terutama butir mengenai berbahasa satu, Bahasa Indonesia.

Perkampungan para siswa dan siswi ini berlangsung hingga Minggu, 31 Oktober. Sejumlah agenda sudah tersusun. Di antaranya workshop budaya, sastra, dan teater, lomba puisi, pidato, hingga musik kreasi. Sabtu, 30 Oktober, peserta melakukan kunjungan budaya ke Museum La Galigo di Fort Rotterdam.

Masih dalam rangkaian Bulan Bahasa, kata Mansur, dalam kegiatan ini juga digelar seminar pengajaran sastra. Seminar digelar Kamis, 28 Oktober, hari ini. (*)

Makassar, 27 Oktober 2010

Minggu, 10 Oktober 2010

Confuse, Bukan Sekadar Hobi

DARI jari-jari mereka, tercipta pesona musik penuh semangat. Profesi atau sekadar hobi?

Dentuman musik techno dari dua buah speaker aktif memenuhi ruangan berukuran sekira 24 meter persegi. Di lantai berkarpet biru kehijauan, seorang pria asyik memainkan jarinya di tuts keyboard laptop dan sebuah controller.

Di sudut lain, seorang lagi sibuk mengoperasikan controller, mixer dan beberapa alat disk jockey lainnya. Sebuah headphone tercantol di kupingnya.

Saya tidak sedang berada dalam sebuah club atau pun tempat hiburan sejenisnya. Namun saya berada di studio milik sebuah komunitas yang menamakan diri “Confuse”.

Enam anggota Confuse menyambut saya saat bertandang ke studio mereka di bilangan Kompleks Lyly, Panakkukang Mas, ini. Mereka adalah Dj Dhona, Dj Dhedhe, Dj Echa, Dj Dheelo, dan Dj Rico serta Dj Rani.

“Beginilah suasana di studio kalau sedang akhir pekan. Kita lebih suka ngumpul di sini,” ucap Dj Echa, Minggu, 10 Oktober.

Confuse beranggotakan sekumpulan orang dengan hobi yang sama; cinta terhadap musik.Tapi dalam bermain musik mereka melakukannya dengan sentuhan yang berbeda. Musik yang ada mereka bongkar dan kemudian di-remix.

Tak hanya bermain musik, mereka juga aktif berbagi ilmu dengan siapa saja yang ingin belajar menjadi seorang disk jockey. Maka jadilah Confuse ini sebagai tempat kursus atau sekolah disk jockey.

Komunitas ini resmi terbentuk pada 1 Juli 2008, dengan markas awal di Makassar Town Square (M’Tos).

“Ide awal mendirikan Confuse ini dari ajakan seorang teman yang juga disk jockey di Jakarta. Melihat saat itu belum ada sekolah khusus disk jockey di Makassar, dan disk jockey di sini waktu itu masih sangat sedikit,” urai Dj Dhona yang merupakan pendiri Confuse.

Tak lama berselang lama setelah dibuka, sekolah disk jockey ini semakin diminati. Bukan cuma Makassar, bahkan ada yang berasal dari Papua dan Mataram.

Selama kurang lebih dua tahun berkiprah, sekolah ini telah menghasilkan tak kurang 20 disk jockey. Mereka tersebar di seluruh Indonesia.

Meskipun berkonsep sekolah dan telah menghasilkan banyak disk jockey, tujuan utama Confuse sebenarnya bukanlah untuk profesi menjadi disk jockey. Hal ini terbukti dengan latar belakang profesi masing-masing anggota yang bervariasi. Ada yang masih pelajar dan mahasiswa, maupun yang berprofesi sebagai pembalap, dosen, notaris, developer, dan bahkan ada yang mantan anggota manajemen artis ibu kota.

“Kami lebih bertujuan untuk menyalurkan hobi dan bakat di bidang ini (disk jockey, red). Istilahnya ya sebagai sampingan,” urai Dj Dheelo yang ternyata seorang dokter sekaligus dosen.

Satu yang menjadi kebanggaan para anggotanya, yakni kekeluargaan yang terjalin di Confuse sangat kental. Seperti yang terlihat ketika saya bertamu, studio mini ini tampak ramai dengan canda tawa.

Mereka menuturkan, banyak cerita yang didapat dari pengalaman menjadi anggota Confuse. “Awalnya saya sangat tertarik dengan musik disk jockey dan suka dugem (istilah bagi penikmati dunia gemerlap malam, red). Kemudian saya berpikir, daripada cuma sekadar dugem tapi tidak menghasilkan, saya pun gabung di sini,” tutur Dj Dhedhe.

Dj Dhedhe menambahkan, dia juga sangat senang dengan kekeluargaan yang didapatnya di Confuse.

Hampir sama dengan yang dirasakan Dj Rico, yang mengaku suka lagu-lagu disk jockey dan sering clubbing sebelum masuk Confuse.

Anggota Confuse lainnya pun merasakan banyak suka yang didapat dengan bergabung dalam komunitas ini. Selain kekeluargaan, jelas Dj Dhona, mereka juga jadi memperoleh banyak teman, dan bisa main (nge- disk jockey, red) ke mana-mana.

Dari sekian kisah yang dilalui, tak sedikit yang menyisakan cerita yang kurang mengenakkan. “Di sini kan image disk jockey di masyarakat cenderung negatif,” tutur Dj Dhona.

Selain itu, lanjutnya, masih ada club-club dan disk jockey di Makassar yang kurang respek dengan komunitas seperti Confuse. Tidak seperti di kota-kota lain, yang club-clubnya sangat welcome dengan komunitas-komunitas disk jockey.

Terlepas dari itu semua, para anggota Confuse tetap pada misi mereka dalam mengubah image negatif disk jockey. “Confuse ingin mengubah stigma negatif tersebut. Bahwa dunia disk jockey bukanlah sesuatu yang tabu dan negatif,” kata Dj Dhona. (*)


Panakkukang
09-10-10

Semangat Kerja Sang Pembuat Hosti

“MELALUI bekerja, saya dapat berdoa untuk menyertai pekerjaan …”


TEMPAT ini bukan di Manado tetapi sekejap suasana sangat kental dengan Bumi Tinutuan. Seorang suster tua menyapa dengan ramah.

“Tunggu jo sebentar, saya panggilkan Suster Regina,” ujar biarawati itu sambil menuju ke ruang dalam Biara Rajawali, Selasa, 28 September.

Di dalam ruangan terdapat lima sofa empuk. Sofa ini khusus disiapkan bagi tamu biara. Di depan sofa, terparkir sebuah meja kaca yang ditutupi selembar taplak ungu.

“Selamat siang,” terdengar sebuah suara pelan, bergetar.
Yang ditunggu sudah datang. Seorang biarawati tua berkacamata berbaju terusan serba putih, lengkap kerudung putih. Sambil berjabat tangan, senyuman hangat tersungging di bibir sang biarawati.

Di Biara Rajawali, perempuan ini akrab disapa “Oma”. Maklum, di antara para biarawati, Suster Regina yang tertua.

Suster Regina memang “Oma”. Namun, itu bukan nama bawaan lahir. Dia lahir dengan nama Margaretha, di sebuah desa di Kabupaten Pinrang. Tepatnya di Desa Suppirang.
“Saya menggunakan nama ‘Regina’ sebagai nama biara setelah mengucapkan kaul (janji hidup selibat, red) yang pertama,” ucap Suster Regina sambil mengingat-ingat masa lalunya.

Pada tahun 1950, Margaretha bersama 21 temannya masuk ke Biara Santo Walterus, Tomohon. Selama sepuluh bulan dia tinggal di biara sebagai calon biarawati. Setelah itu, masih di biara yang sama ia kemudian menjalani pendidikan sebagai murid selama dua tahun.

“Waktu mau berangkat ke Manado, papa saya (orang tua Suster Regina, red) bilang kalau kita ini tidak ada apa-apa. Artinya tidak ada ongkos buat ke Manado toh, tapi papa mengizinkan,” kenang Regina.

Diakuinya bahwa saat masih baru di biara, Regina sering berpikiran untuk keluar. “Biasa saya pikir, jangan-jangan saya ini tidak terpanggil. Saya pun sempat meminta pulang kepada kepala biara,” kata Regina. Telunjuknya membenarkan letak kacamata yang bertengger di hidungnya.

Setelah dua tahun pendidikan, Regina kemudian mengucapkan kaul pertama. Maka, resmilah dia menyandang nama Suster Regina Sassa, YMY.

“Saya lalu ke komunitas lain untuk pelayanan, di Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon, selama kurang lebih tiga tahun,” ujar perempuan yang baru saja merayakan 60 tahun atau enam decade hidup membiara, tepatnya 15 September lalu.

Regina tidak ingat lagi tanggal kelahirannya. “Kata papa itu hari, saya ini lahir tahun 1928, tapi kalau tanggalnya dia sudah tidak ingat,” ucap dia.
Sesekali Regina membuka kacamata. Ada air mata. Mungkin dia teringat masa lalu saat masih bersama keluarganya di kampung halaman.

“Tahun 1959 Kaul Kekal di Tomohon. Dan kita pe pindah ke Biara Rumah Sakit Stella Maris (Makassar, red) sampai tahun 1965. Terus ke Biara Paku, Makale selama sebelas tahun,” lanjut Regina dalam aksen Manado yang kental.

Ketika bertugas di Makale, Pesta Perak hidup membiaranya sempat dirayakan oleh biara setempat.

“Waktu saya pulang dari Manado, kong kita bertemu keluarga toh, sepupu-sepupu, mereka bilang, ‘We kitorang so ada anak dan cucu, apa kamu?’ Saya bilang kita dapat panggilan masing-masing. No kamu terpanggil untuk itu (hidup berkeluarga, red). Dan saya terpanggil untuk ini,” kenang Regina sambil sesekali tertawa.

Dalam menjalani hidup selibat atau membiara, Regina seringkali mendapatkan godaan dari beberapa orang untuk meninggalkan biara. Namun hatinya kukuh. Dia bergeming. Setiap godaan dia hanya memberi jawaban, “Kalau saya tidak mau, itu artinya tidak."
Regina kemudian melanjutkan pelayanannya di Biara Marampa’ Rantepao. Pada Januari 1980, dia kembali ke Makassar, tepatnya di Biara Rajawali.

“Sampai sekarang saya di sini (Biara Rajawali red) bekerja di kamar hosti,” jelas dia.

Hosti adalah sejenis wafer yang digunakan umat Katolik dalam Perjamuan Kudus atau Misa setiap Hari Minggu.

Di Biara Rajawali, Regina bertugas mencetak adonan hosti dengan menggunakan mesin khusus. Dia dibantu dua petugas lainnya. “Biasa juga ada suster (biarawati, red) lain yang ikut membantu,” ujar Regina.

Meskipun jalannya sudah agak terpincang-pincang, namun Regina tetap terlihat sehat dan selalu tersenyum. Dia tidak pernah mengeluh dalam melaksanakan tugas di Kamar Hosti. Walau kadang-kadang dia harus bertugas seorang diri ketika dua petugas yang sering membantunya tidak masuk kerja.

Dalam hidup membiara selama enam dekade, Regina selalu memegang prinsip ora et labora, artinya bekerja sambil berdoa.

“Saya senang sekali di Kamar Hosti, meskipun pekerjaannya berat dengan mesin dan sebagainya, karena dengan kerja itu, saya juga dapat berdoa,” kata Regina bersemangat. (*)

Makassar, 28 09 10

Rabu, 11 Agustus 2010

“Mia and The Migoo”: Kisah Gadis Kecil dan Penjaga Alam

Apa jadinya bila isu perusakan lingkungan oleh korporasi besar dijadikan tema dalam film anak-anak? Isu yang cukup berbobot ini ternyata dengan mudah mengalir lewat dongeng tentang Mia and The Migoo. Film asal Perancis ini berkisah tentang Mia, seorang gadis kecil yang melakukan perjalanan ke Puerto del Migos demi mencari ayahnya. Ayahnya yang bernama Pedro adalah seorang pekerja di proyek mega properti milik pengusaha perancis bernama WiIliam. Meskipun Mia masih kecil, dia tidak takut untuk pergi jauh sendiri dan berhadapan dengan beragam jenis rintangan. Mia terus berjalan meskipun orang-orang bilang ada mitos tentang raksasa di hutan tempat proyek properti tersebut berada.
Demi tercapainya pembangunan resor tengah hutan yang menarik, si pengusaha berniat untuk menyingkirkan pohon terbesar di lingkungan itu. Padahal, pohon itu adalah pohon kehidupan yang dijaga oleh Migoo. William (pengusaha) juga tidak memperhatikan keselamatan pekerjanya ketika diberi tahu bahwa Pedro (ayah Mia), salah satu pekerja menghilang dalam timbunan batu. Yang ia tahu hanya proyeknya menarik banyak investor dan selesai tepat waktu. Mia yang berpetualang sendirian ke dalam hutan proyek akhirnya berteman dengan Migoo dan berteman dengan Aldrin, anak pengusaha tersebut, ikut menjadi penyelamat pohon kehidupan.
Petualangan yang seru dan diselingi dengan komedi khas anak-anak ini membuat kita penasaran dengan akhir cerita. Apakah Mia berhasil bertemu dengan Ayahnya yang hilang. Akankah pohon kehidupan itu selamat dari gusuran pemilik proyek? Pertanyaan akan dijawab dengan baik oleh keteguhan hati Mia di film kartun animasi ini.
Pesan-pesan yang terkandung di dalamnya juga sangat bagus untuk disampaikan pada anak-anak. Ada pesan tentang menjaga lingkungan dan keharmonisan ekologi dan keberanian Mia yang patut dicontoh oleh anak-anak. Selain soal lingkungan, film ini juga berhasil menyindir maskulinitas, yang direpresentasikan oleh WiIliam.
Bagaimana perilaku maskulin yang cenderung merusak lingkungan untuk suatu tujuan. Penonton yang mayoritas anak-anak pun terlihat antusias dengan film ini yang diekspresikan lewat tawa dan teriakan penyemangat.
Sajian bagi anak-anak yang menghibur sekaligus mendidik seperti film ini mungkin bisa dihitung dengan jari. Untungnya beberapa bulan terakhir ini diadakan beberapa festival film anak. Selain Goelali film festival, ada Kidsfest film festival yang digagas oleh Yayasan Kalyana Shira. Festival film anak internasional pertama di Indonesia yang diselenggarakan 17-26 Juli 2009 ini menyajikan beragam pilihan genre film anak-anak. Mulai dari animasi hingga film petualangan.
Semoga ke depannya semakin banyak acara khusus anak-anak yang mendidik sekaligus menyenangkan untuk mereka ikuti guna mengisi hari liburan.

dikutip dari : www.jurnalperempuan.com

Senin, 28 Juni 2010

PERJUANGAN MERAIH SELEMBAR SLAYER JINGGA

Kebahagiaan dan rasa bangga terpancar dari wajah kami, peserta Diksar VI Kompala Stikom Fajar (KSF), Muchtar Aburaera (Jalling), Ahmad Husain (Ucheng), Mardiah (Diah) dan Odilia Palamba (Odiel).

Kebanggaan karena berhasil mendapatkan slayer jingga dan segudang pengalaman baru setelah mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) VI Kompala Stikom Fajar selama 4 hari di Kabupaten Maros. “Slayer jingga” yang menandakan bahwa kami telah dikukuhkan menjadi anggota muda Komunikasi Pencinta Alam Stikom Fajar (KOMPALA SF).

Tak mulus jalan yang kami lalui untuk meraih slayer tersebut. Sebelum mengikuti pendidikan dasar lapangan, kami harus melalui beberapa tahapan yang penuh liku. Selain itu, kami pun harus menyiapkan mental dan fisik agar dapat mengikuti diksar lapangan dengan maksimal.

Hari Kamis 4 Mei 2006 tepat pukul 17.00, kami bersama beberapa panitia yang terdiri dari Kak Ochank, Kak Azis, Kak Chimot, Kak Iping, Kak Pian, dan Kak Ophal berangkat menuju lokasi diksar.

Matahari sudah bersembunyi ketika pete-pete dengan plat DD 1851 T membawa rombongan kami tiba di Desa Panaikkang, Maros. Di desa itu kami menginap di salah satu rumah penduduk yang bernama Bapak Mappi. Para penghuni rumah tersebut sangat ramah dan bersahabat. Bahkan kami sempat santap malam bersama dan bercerita tentang Desa Panaikang bersama mereka.

Setelah makan malam kami diberi materi Penanganan Pertama Pada Gawat Darurat (PPGD) oleh kakak-kakak senior. Selanjutnya Kak Ochank memberi arahan dan aturan-aturan yang wajib kami patuhi selama pelaksanaan diksar sekaligus pemilihan ketua tim. Di sini kami pun diberikan masing-masing nama lapangan yang akan menjadi panggilan kami selama diksar. Ucheng dipercaya memimpin tim diberi nama Bawakaraeng, Jalling mendapat nama Latimojong, Lompobattang untuk Odiel dan Bulusaraung nama untuk Mardiah. Sedangkan Tim kami diberi nama Kabut Rimba Leang-leang.

Keesokan harinya, sembari menyiapkan sarapan, kami menyempatkan diri melihat-lihat keindahan Desa Panaikang yang dikelilingi tebing-tebing cadas dan persawahan. Kicau burung-burung dan gemericik air sungai menambah keasrian desa tersebut.

Tepat pukul 09.00 wita,kami mulai treking menuju Desa Lampeso. Kak Ochank dan Kak Chimot, berjalan paling depan dan bertindak sebagai sebagai leader. Sementara Kak Pian dan Kak Iping yang berjalan di belakang kami bertugas sebagai sweeper (penyapu jalur). Kak Opal sendiri berjalan beriringan bersama kami karena tugasnya memang sebagai pendamping peserta diksar.

Untuk tiba di Desa Lampeso membutuhkan waktu perjalanan kira-kira tujuh jam. Selama trekking kami melalui medan yang lumayan sulit, seperti jalan berbatu yang licin dan agak terjal. Walaupun perjalanan tersebut sangat melelahkan, tapi semangat kami tak pernah surut. Malah semakin berapi-api dengan harapan segera tiba di Desa Lampeso.

Hari sudah sore saat kami tiba di Desa Lampeso. Setelah melapor kepada Kak Ochank selaku Korlap (koordinator lapangan) meminta ijin dengan pendamping, kami langsung mendirikan tenda di halaman sebuah rumah penduduk yang ditempati para senior menginap.

Desa Lampeso adalah sebuah desa yang terletak di kaki Gunung Bulusaraung. Dari desa itu kita dapat melihat jelas Puncak Bulusaraung yang menjulang kokoh. Selain Gunung Bulusaraung, desa itu juga dikelilingi hamparan sawah garapan penduduk setempat berpagar bukit-bukit yang berbaris rapi.
Perlahan tapi pasti sang waktu terus merangkak. Tak terasa pelaksanaan Diksar VI KSF telah memasuki hari ke-3, tepatnya pada tanggal, 6 Mei 2006, masih di Lampeso. Setelah sarapan seadanya para panitia dan kami pun packing, dan bersiap-siap melanjutkan perjalanan menuju Kampung Beru yang menjadi target camp hari ke tiga. Pukul 10.00 wita team leader sudah berangkat. Setengah jam kemudian kami, pendamping dan team sweeper menyusul.

Di tengah perjalanan, kami singgah di sebuah sungai untuk mandi. Kebetulan saat itu kami mendapati Kak Ochank dan Kak Chimot sedang beristirahat. Di sungai itu kami bermain air sepuasnya, layaknya anak kecil. Puas membersihkan badan dan bermain air, kami kemudian melanjutkan perjalanan setelah mendengar suara sempritan Kak Ochank, yang menandakan tim leader akan melanjutkan perjalanan.

Medan yang kami tempuh di hari kedua perjalanan lebih sulit dan lebih jauh jarak tempuhnya dibandingkan hari sebelumnya. Jalur yang kami lalui didominasi dengan jalur yang sangat terjal dan berbatu sehingga sesekali kami harus melakukan scrambling (berjalan sambil memanjat) agar dapat melaluinya. Selain itu, kami diharuskan menyeberangi sebuah sungai besar yang lumayan dalam sambil meniti lintasan tali yang dipasang Kak Ochank dan Kak Chimot.

Saat memasuki waktu Salat Maghrib, para senior memutuskan beristirahat di hutan pinus sekaligus untuk menyiapkan senter masing-masing. Saat itu, kegelapan telah menyelimuti hutan pinus.

Lewat waktu Maghrib, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan. Namun, baru beberapa menit kami berjalan, Bulusaraung tiba-tiba jatuh pingsan karena kelelahan. Untungnya, lokasi camp sudah dekat. Setelah mendapat perawatan dan Bulusaraung siuman, perjalanan kami lanjutkan.

Hari ke-4 diksar, setelah packing (berkemas), kami melanjutkan perjalanan menuju Bengo-bengo. Di sana, ternyata tim pejemput telah menanti. Setelah cuci kaki, kami pun naik ke rumah dan istirahat untuk persiapan pelantikan pada malam harinya.

Tepat pukul 19.00 wita, kami diminta mengenakan baju kaos diksar yang sudah dibagikan sebelumnya oleh Kak Ochank. Selanjutnya, kami mendapat arahan mengenai aturan yang harus kami taati pada proses pelantikan sebagai anggota muda.

Sebelum dilantik kami harus melalui beberapa pos untuk menguji mental dan fisik kami sebagai calon-calon pendaki tangguh yang taat etika.

Momen yang dinantikan akhirnya tiba, yaitu upacara pelantikan. Puncak acara kami dipanggil satu per satu untuk menerima pemasangan slayer dari para panitia,sebagai tanda pengukuhan kami menjadi Anggota Muda Kompala Stikom Fajar.

Jumat, 04 Juni 2010

-d soNg of d 2nd faMs-

Berkelana di antara ilalang
Lahir dari kebersamaan
Menjunjung citra berjiwa besar
Menggali potensi dalam diri
Hakikat pencinta alam...

Meski berpeluh derita
Tak sangsi keyakinan
Hitam sarat makna adalah keindahan
Wujud keutuhan
Mari melebur diri...

Mencintai dengan tulus
Junjung tinggi prinsip
Menghargai kehidupan
Sujud pada Ilahi...

Sabtu, 22 Mei 2010

in Memoriam "RAKYAT" (Refleksi Anak Komunikasi Yang Anti Takut)

Tradisi…

Menurut beberapa orang tradisi tidak harus terus-menerus dilakukan. Tradisi bisa saja diubah atau digantikan dengan hal-hal lain yang lebih baru dan lebih modern. Dan tradisi itu perlahan demi perlahan dihilangkan dan untuk kemudian mati!
Ketika langkah dihadang dan asa dipatahkan, haruskah “Rakyat” pasrah dan tidak melakukan pertahanan? Para pejuang Rakyat, haruskah semuanya berakhir setragis ini? Hanya karena suatu aturan ataukah undang-undang atau apalah namanya “hukum itu” yang sama sekali tidak pernah diperlihatkan kepada kita, yang mengharuskan tradisi dihapuskan dan dihilangkan, tanpa sisa, tanpa suatu (atau beberapa mungkin) alasan yang jelas!

Teringat akan kata-kata dari seorang pejuang demokrasi, Wiji Tukul, “Hanya ada satu kata, LAWAN…”, tapi Rakyat tak seanarkis itu. Ketika sebuah sistem telah memaksa kita untuk tunduk dan beralih tradisi, Rakyat tidak akan bertindak brutal. Karena Rakyat adalah sekumpulan manusia -yang juga ciptaan Tuhan- yang juga punya hati nurani. Tapi kalau memang itu yang mereka minta, maka hanya ada satu kata dan tindakan, LAWAN!

Rakyat tidak akan pernah menyerah kepada kemunafikan. Rakyat hanya akan mengalah, tapi tidak kepada kemunafikan, hanya untuk menyiapkan perjuangan selanjutnya. Mengalah untuk kemenangan yang tertunda.

Para pengecut dan pengkhianat yang masih menganggap dirinya Rakyat… Dasar! Mereka seperti tidak punya rasa malu dan rasa bersalah secuil pun! Tanpa rasa berdosa, diantarkannya RAKYAT menuju “gerbang eksekusi”. Penjilat-penjilat, munafik, apa masih ada hati nurani di diri mereka? Mereka –sepertinya- bukan manusia! Setengah batu mungkin? Ataukah sepotong es di puncak Efferest? Beku, dingin, tak terlelehkan?!

Masihkah kau ingat kawan? Kala prosesi RAKYAT kita bertemu, dalam Lintas Angkatan para senior menghampiri dan menyapa kita untuk berkenalan.
Masihkah kuat dirimu kawan? Untuk merelakan kematian RAKYAT? Menghantarkan RAKYAT ke peristirahatan terakhir…

RAKYAT,,, tradisi yang tinggal kata…
Tinggal kenangan di benak dan hati kita…

“RAKYAT telah mati…”

Tapi bagi Rakyat, RAKYAT itu sendiri akan senantiasa ada di hati masing-masing.
Salam pembebasan, bagi saudara-saudariku seperjuangan, Rakyat STIKOM Fajar…

Jangan takut untuk berevolusi. Jika diam tak lagi menjadi jawaban atas segalanya, maka hanya ada satu kata dan tindakan, LAWAN…

Hidup RAKYAT !!!
[di hati kita]

Salam pembebasan…

20 sePt. 2007
@ hUmz

Senin, 29 Maret 2010

Belajar

Proses belajar yang tepat bagi manusia dapat dilakukan dengan menerapkan keilmuan diri dan kedirian ilmu yang dimiliki. Yang dimaksud dengan keilmuan diri adalah bagaimana seorang manusia dapat memasukkan ilmu yang diperolehnya ke dalam dirinya. Sementara kedirian ilmu itu adalah bagaimana memanfaat ilmu yang telah dimiliki, atau dengan kata lain bagaimana memerapkan ilmu itu sendiri.

Untuk mencapai hasil yang memuaskan dari proses belajar tersebut, maka diperlukan cara belajar yang baik dan benar. Pertama, manusia tidak boleh merasa sombong, dengan kata lain harus tetap rendah hati. Yang kedua, manusia harus membuka hatinya untuk menerima pelajaran yang diberikan kepadanya. Dan yang terakhir adalah dengan meluaskan hati agar dapat menerima dengan ikhals pelajaran yang ada.

Belajar. Banyak yang masih bertanya-tanya apa sebenarnya manfaat belajar itu. Apakah untuk menjadikan diri lebih hebat dari sebelumnya dan menjadi semakin hebat? Manfaat dan fungsi yang sebenarnya dari belajar itu adalah agar manusia dapat membedakan hal yang baik dan hal yang buruk.

Intinya, hidup adalah suatu proses belajar yang tak pernah berhenti.

(Sumber: Nevy James Tonggiroh, Abang sekaligus Guru bagiku)

Jumat, 19 Maret 2010

EKSOTISME CERMIN RAKSASA DI KAKI SEMERU

Berpagar bukit-bukit yang dihiasi padang savanna dan pepohonan cemara, Ranu Kumbolo memberikan suasana yang khas dalam perjalanan menuju Puncak Para Dewa, Mahameru.

Suasana sejuk di tepian danau menyambut kehadiran para peserta Napak Tilas Soe Hok Gie yang ke 40 tahun. Bersama puluhan pendaki dari berbagai daerah di Indonesia, dua putri KOMPALA UNIFA, Mardiah dan Odiel pun turut serta menapaki jejak-jejak Soe Hok Gie dan Idhan Lubis menuju Puncak Mahameru. Sesekali terlihat beberapa penduduk datang untuk memancing di danau yang terletak di kaki Gunung Semeru, tepatnya di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Selain penduduk sekitar, danau ini juga menjadi favorit bagi para pendaki sebagai persinggahan sebelum menuju Mahameru dikarenakan keindahan pemandangan dan sejuknya udara di sekitarnya. Sesekali beberapa pendaki mencicipi dinginnya air danau dengan berendam di dalamnya. Sebagai selingan, ada juga yang menguji nyali sambil melompat ke danau dari atas batang pohon cemara tumbang yang tergeletak di tepi danau.

Daya tarik lain yang dapat ditemui di tempat ini adalah sebuah tanjakan yang menjadi pintu gerbang menuju Kalimati. Para pendaki menamainya “Tanjakan Cinta”. Konon bila mendaki di tanjakan tersebut sambil memikirkan seseorang, maka akan “jadian” dengan orang yang itu. Demikian halnya bila memikirkan permohonan sepanjang tanjakan itu, maka akan terkabul. Itu bila sepanjang tanjakan dilalui tanpa menoleh ke belakang hingga di puncaknya. Para pendaki pun sering menjadikan tanjakan itu sebagai guyonan.

Ketika beberapa pendaki sedang melalui tanjakan itu dan telah di pertengahan, maka pendaki lain yang masih berada di sekitar danau akan memanggil mereka supaya berbalik. Banyak alasan yang digunakan agar pendaki yang berada di tanjakan berbalik. Jika panggilan tidak mempan, maka mereka beralasan bahwa ada barang yang ketinggalan.

Dari sekian banyak keindahan yang tersaji di Ranu Kumbolo, ada satu hal yang menjadi daya tarik tersendiri bagi beberapa pendaki, termasuk saya. Jika dari tempat camp memandang ke arah danau, maka akan terlihat pertemuan dua buah bukit yang berbentuk seperti sebuah celah memberikan pemandangan yang agak berbeda.

Menjelang sore hari, celah tersebut seolah-olah menjadi pintu bagi sekumpulan kabut yang masuk ke Ranu Kumbolo. Kabut kemudian memenuhi permukaan danau dan menyelimuti Ranu Kumbolo hingga malam hari.

Di pagi hari, saat air danau masih tenang, tak terusik hembusan angin, celah bukit tersebut tampak merefleksikan diri di permukaan danau. Bak cermin raksasa. Sungguh pemandangan yang menakjubkan.

Tak ada yang dapat menyangkal bahwa Ranu Kumbolo memang memberikan perasaan rindu bagi yang pernah menikmati sajiannya untuk kembali lagi menginjakkan kaki di suatu saat yang mendatang. Entah kapankah itu.

Eksotisme yang diberikannya seolah-olah menjadi pintu gerbang menuju ke petualangan yang sebenarnya menuju Sang Mahameru.

Ingin merasakan dan menikmati serunya bertualang sambil berburu sunrise ke Mahameru, Puncak Para Dewa???

Siapkan fisik dan mental Anda…


Selasa, 16 Maret 2010

Gunung = Guru

Entah bagaimana kisah ini bermula, dan tanpa sadar diriku sudah tercantum di dalam alur ceritanya...

Seorang guru pernah berkata, "jika kau menganggap gunung hanyalah timbunan tanah, pepohonan, dan bebatuan, maka sama saja jika kau mengaggap dirimu hanya seonggok daging, tulang, yang dialiri darah.

Banyak arti yang tersirat dalam kalimat tersebut, namun makna yang saya tangkap adalah tentang bagaimana menghargai "sesuatu" atau "seseorang" di dunia ini.

Waktu bergulir membawa alur cerita ini semakin panjang dan jauh. seperti mata air yang mengalirkan airnya menuju sungai-sungai di sela-sela perbukitan yang berhulu di lautan lepas, dan tak lupa singgah di saluran kanal-kanal perkotaan.

Setiap saat saya bisa mendapat pelajaran baru dari Sang Guru, yang sangat sesuai dengan kenyataan yang ada dalam kehidupan. kekayaan ilmu dan pengetahuan betul-betul sangat bermanfaat bagi setiap individu.

Kaya harta hanyalah menimbulkan perasaan was-was, sebab sewaktu-waktu harta dapat habis dan hilang. sementara kekayaan ilmu dapat memberikan dampak positif, dengan membagikan ilmu yang dimiliki (namun tentunya tidak secara keseluruhan) kepada orang-orang yang mau belajar/berguru.

Ada kutipan yang menyebutkan; "Gunung adalah guru yang baik...", melalui kutipan ini saya dapat menganalogikan Sang Guru layaknya sebuah gunung.

Gunung senantiasa memberikan pelajaran berharga bagi orang-orang yang pernah menjelajahinya. bahkan sifat asli seseorang dapat dilihat saat mendaki gunung bersama-sama.

Layaknya cerita-cerita yang ada, cerita ini juga kadang memiliki situasi yang membuat tegang urat dan syaraf, hingga masuk ke klimaks yang menjadi puncak cerita ini.

Kebingungan di awal cerita kembali menghampiriku... Entah bagaimana permulaannya, ketika konflik itu datang bak sebuah "topan" yang langsung menghantam tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.

Ketika seutas tali yang bernama "silaturahmi" harus terputus, tanpa ada sebab yang jelas,,, sekarang semua hanyalah kenangan. Cukup diingat sebagai masa lalu, tanpa bisa kembali mengulangnya...

mKssR_o312o9