Proses belajar yang tepat bagi manusia dapat dilakukan dengan menerapkan keilmuan diri dan kedirian ilmu yang dimiliki. Yang dimaksud dengan keilmuan diri adalah bagaimana seorang manusia dapat memasukkan ilmu yang diperolehnya ke dalam dirinya. Sementara kedirian ilmu itu adalah bagaimana memanfaat ilmu yang telah dimiliki, atau dengan kata lain bagaimana memerapkan ilmu itu sendiri.
Untuk mencapai hasil yang memuaskan dari proses belajar tersebut, maka diperlukan cara belajar yang baik dan benar. Pertama, manusia tidak boleh merasa sombong, dengan kata lain harus tetap rendah hati. Yang kedua, manusia harus membuka hatinya untuk menerima pelajaran yang diberikan kepadanya. Dan yang terakhir adalah dengan meluaskan hati agar dapat menerima dengan ikhals pelajaran yang ada.
Belajar. Banyak yang masih bertanya-tanya apa sebenarnya manfaat belajar itu. Apakah untuk menjadikan diri lebih hebat dari sebelumnya dan menjadi semakin hebat? Manfaat dan fungsi yang sebenarnya dari belajar itu adalah agar manusia dapat membedakan hal yang baik dan hal yang buruk.
Intinya, hidup adalah suatu proses belajar yang tak pernah berhenti.
(Sumber: Nevy James Tonggiroh, Abang sekaligus Guru bagiku)
Berpagar bukit-bukit yang dihiasi padang savanna dan pepohonan cemara, Ranu Kumbolo memberikan suasana yang khas dalam perjalanan menuju Puncak Para Dewa, Mahameru.
Suasana sejuk di tepian danau menyambut kehadiran para peserta Napak Tilas Soe Hok Gie yang ke 40 tahun. Bersama puluhan pendaki dari berbagai daerah di Indonesia, dua putri KOMPALA UNIFA, Mardiah dan Odiel pun turut serta menapaki jejak-jejak Soe Hok Gie dan Idhan Lubis menuju Puncak Mahameru. Sesekali terlihat beberapa penduduk datang untuk memancing di danau yang terletak di kaki Gunung Semeru, tepatnya di Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Selain penduduk sekitar, danau ini juga menjadi favorit bagi para pendaki sebagai persinggahan sebelum menuju Mahameru dikarenakan keindahan pemandangan dan sejuknya udara di sekitarnya. Sesekali beberapa pendaki mencicipi dinginnya air danau dengan berendam di dalamnya. Sebagai selingan, ada juga yang menguji nyali sambil melompat ke danau dari atas batang pohon cemara tumbang yang tergeletak di tepi danau.
Daya tarik lain yang dapat ditemui di tempat ini adalah sebuah tanjakan yang menjadi pintu gerbang menuju Kalimati. Para pendaki menamainya “Tanjakan Cinta”. Konon bila mendaki di tanjakan tersebut sambil memikirkan seseorang, maka akan “jadian” dengan orang yang itu. Demikian halnya bila memikirkan permohonan sepanjang tanjakan itu, maka akan terkabul. Itu bila sepanjang tanjakan dilalui tanpa menoleh ke belakang hingga di puncaknya. Para pendaki pun sering menjadikan tanjakan itu sebagai guyonan.
Ketika beberapa pendaki sedang melalui tanjakan itu dan telah di pertengahan, maka pendaki lain yang masih berada di sekitar danau akan memanggil mereka supaya berbalik. Banyak alasan yang digunakan agar pendaki yang berada di tanjakan berbalik. Jika panggilan tidak mempan, maka mereka beralasan bahwa ada barang yang ketinggalan.
Dari sekian banyak keindahan yang tersaji di Ranu Kumbolo, ada satu hal yang menjadi daya tarik tersendiri bagi beberapa pendaki, termasuk saya. Jika dari tempat camp memandang ke arah danau, maka akan terlihat pertemuan dua buah bukit yang berbentuk seperti sebuah celah memberikan pemandangan yang agak berbeda.
Menjelang sore hari, celah tersebut seolah-olah menjadi pintu bagi sekumpulan kabut yang masuk ke Ranu Kumbolo. Kabut kemudian memenuhi permukaan danau dan menyelimuti Ranu Kumbolo hingga malam hari.
Di pagi hari, saat air danau masih tenang, tak terusik hembusan angin, celah bukit tersebut tampak merefleksikan diri di permukaan danau. Bak cermin raksasa. Sungguh pemandangan yang menakjubkan.
Tak ada yang dapat menyangkal bahwa Ranu Kumbolo memang memberikan perasaan rindu bagi yang pernah menikmati sajiannya untuk kembali lagi menginjakkan kaki di suatu saat yang mendatang. Entah kapankah itu.
Eksotisme yang diberikannya seolah-olah menjadi pintu gerbang menuju ke petualangan yang sebenarnya menuju Sang Mahameru.
Ingin merasakan dan menikmati serunya bertualang sambil berburu sunrise ke Mahameru, Puncak Para Dewa???
Seorang guru pernahberkata, "jikakaumenganggapgununghanyalahtimbunantanah, pepohonan, danbebatuan, makasamasajajikakaumengaggapdirimuhanyaseonggokdaging, tulang, yang dialiridarah.
Banyakarti yang tersiratdalamkalimattersebut, namunmakna yang sayatangkapadalahtentangbagaimanamenghargai "sesuatu" atau "seseorang" diduniaini.
Waktubergulirmembawaalurceritainisemakinpanjangdanjauh. sepertimata air yang mengalirkanairnyamenujusungai-sungaidisela-selaperbukitan yang berhuludilautanlepas, dantaklupasinggahdisalurankanal-kanalperkotaan.
Setiapsaatsayabisamendapatpelajaranbarudari Sang Guru, yang sangatsesuaidengankenyataan yang adadalamkehidupan. kekayaanilmudanpengetahuanbetul-betulsangatbermanfaatbagisetiapindividu.
Kayahartahanyalahmenimbulkanperasaan was-was, sebabsewaktu-waktuhartadapathabisdanhilang. sementarakekayaanilmudapatmemberikandampakpositif, denganmembagikanilmu yang dimiliki (namuntentunyatidaksecarakeseluruhan) kepadaorang-orang yang maubelajar/berguru.
Adakutipan yang menyebutkan; "Gunungadalah guru yang baik...", melaluikutipaninisayadapatmenganalogikan Sang Guru layaknyasebuahgunung.
Gunungsenantiasamemberikanpelajaranberhargabagiorang-orang yang pernahmenjelajahinya. bahkansifatasliseseorangdapatdilihatsaatmendakigunungbersama-sama.
Layaknyacerita-cerita yang ada, ceritainijugakadangmemilikisituasi yang membuatteganguratdansyaraf, hinggamasukkeklimaks yang menjadipuncakceritaini.
Kebingungandiawalceritakembalimenghampiriku... Entahbagaimanapermulaannya, ketikakonflikitudatangbaksebuah "topan" yang langsungmenghantamtanpaadatanda-tandasebelumnya.
Ketikaseutas tali yang bernama "silaturahmi" harusterputus, tanpaadasebab yang jelas,,, sekarangsemuahanyalahkenangan. Cukupdiingatsebagaimasalalu, tanpabisakembalimengulangnya...