Minggu, 10 Oktober 2010

Confuse, Bukan Sekadar Hobi

DARI jari-jari mereka, tercipta pesona musik penuh semangat. Profesi atau sekadar hobi?

Dentuman musik techno dari dua buah speaker aktif memenuhi ruangan berukuran sekira 24 meter persegi. Di lantai berkarpet biru kehijauan, seorang pria asyik memainkan jarinya di tuts keyboard laptop dan sebuah controller.

Di sudut lain, seorang lagi sibuk mengoperasikan controller, mixer dan beberapa alat disk jockey lainnya. Sebuah headphone tercantol di kupingnya.

Saya tidak sedang berada dalam sebuah club atau pun tempat hiburan sejenisnya. Namun saya berada di studio milik sebuah komunitas yang menamakan diri “Confuse”.

Enam anggota Confuse menyambut saya saat bertandang ke studio mereka di bilangan Kompleks Lyly, Panakkukang Mas, ini. Mereka adalah Dj Dhona, Dj Dhedhe, Dj Echa, Dj Dheelo, dan Dj Rico serta Dj Rani.

“Beginilah suasana di studio kalau sedang akhir pekan. Kita lebih suka ngumpul di sini,” ucap Dj Echa, Minggu, 10 Oktober.

Confuse beranggotakan sekumpulan orang dengan hobi yang sama; cinta terhadap musik.Tapi dalam bermain musik mereka melakukannya dengan sentuhan yang berbeda. Musik yang ada mereka bongkar dan kemudian di-remix.

Tak hanya bermain musik, mereka juga aktif berbagi ilmu dengan siapa saja yang ingin belajar menjadi seorang disk jockey. Maka jadilah Confuse ini sebagai tempat kursus atau sekolah disk jockey.

Komunitas ini resmi terbentuk pada 1 Juli 2008, dengan markas awal di Makassar Town Square (M’Tos).

“Ide awal mendirikan Confuse ini dari ajakan seorang teman yang juga disk jockey di Jakarta. Melihat saat itu belum ada sekolah khusus disk jockey di Makassar, dan disk jockey di sini waktu itu masih sangat sedikit,” urai Dj Dhona yang merupakan pendiri Confuse.

Tak lama berselang lama setelah dibuka, sekolah disk jockey ini semakin diminati. Bukan cuma Makassar, bahkan ada yang berasal dari Papua dan Mataram.

Selama kurang lebih dua tahun berkiprah, sekolah ini telah menghasilkan tak kurang 20 disk jockey. Mereka tersebar di seluruh Indonesia.

Meskipun berkonsep sekolah dan telah menghasilkan banyak disk jockey, tujuan utama Confuse sebenarnya bukanlah untuk profesi menjadi disk jockey. Hal ini terbukti dengan latar belakang profesi masing-masing anggota yang bervariasi. Ada yang masih pelajar dan mahasiswa, maupun yang berprofesi sebagai pembalap, dosen, notaris, developer, dan bahkan ada yang mantan anggota manajemen artis ibu kota.

“Kami lebih bertujuan untuk menyalurkan hobi dan bakat di bidang ini (disk jockey, red). Istilahnya ya sebagai sampingan,” urai Dj Dheelo yang ternyata seorang dokter sekaligus dosen.

Satu yang menjadi kebanggaan para anggotanya, yakni kekeluargaan yang terjalin di Confuse sangat kental. Seperti yang terlihat ketika saya bertamu, studio mini ini tampak ramai dengan canda tawa.

Mereka menuturkan, banyak cerita yang didapat dari pengalaman menjadi anggota Confuse. “Awalnya saya sangat tertarik dengan musik disk jockey dan suka dugem (istilah bagi penikmati dunia gemerlap malam, red). Kemudian saya berpikir, daripada cuma sekadar dugem tapi tidak menghasilkan, saya pun gabung di sini,” tutur Dj Dhedhe.

Dj Dhedhe menambahkan, dia juga sangat senang dengan kekeluargaan yang didapatnya di Confuse.

Hampir sama dengan yang dirasakan Dj Rico, yang mengaku suka lagu-lagu disk jockey dan sering clubbing sebelum masuk Confuse.

Anggota Confuse lainnya pun merasakan banyak suka yang didapat dengan bergabung dalam komunitas ini. Selain kekeluargaan, jelas Dj Dhona, mereka juga jadi memperoleh banyak teman, dan bisa main (nge- disk jockey, red) ke mana-mana.

Dari sekian kisah yang dilalui, tak sedikit yang menyisakan cerita yang kurang mengenakkan. “Di sini kan image disk jockey di masyarakat cenderung negatif,” tutur Dj Dhona.

Selain itu, lanjutnya, masih ada club-club dan disk jockey di Makassar yang kurang respek dengan komunitas seperti Confuse. Tidak seperti di kota-kota lain, yang club-clubnya sangat welcome dengan komunitas-komunitas disk jockey.

Terlepas dari itu semua, para anggota Confuse tetap pada misi mereka dalam mengubah image negatif disk jockey. “Confuse ingin mengubah stigma negatif tersebut. Bahwa dunia disk jockey bukanlah sesuatu yang tabu dan negatif,” kata Dj Dhona. (*)


Panakkukang
09-10-10

Semangat Kerja Sang Pembuat Hosti

“MELALUI bekerja, saya dapat berdoa untuk menyertai pekerjaan …”


TEMPAT ini bukan di Manado tetapi sekejap suasana sangat kental dengan Bumi Tinutuan. Seorang suster tua menyapa dengan ramah.

“Tunggu jo sebentar, saya panggilkan Suster Regina,” ujar biarawati itu sambil menuju ke ruang dalam Biara Rajawali, Selasa, 28 September.

Di dalam ruangan terdapat lima sofa empuk. Sofa ini khusus disiapkan bagi tamu biara. Di depan sofa, terparkir sebuah meja kaca yang ditutupi selembar taplak ungu.

“Selamat siang,” terdengar sebuah suara pelan, bergetar.
Yang ditunggu sudah datang. Seorang biarawati tua berkacamata berbaju terusan serba putih, lengkap kerudung putih. Sambil berjabat tangan, senyuman hangat tersungging di bibir sang biarawati.

Di Biara Rajawali, perempuan ini akrab disapa “Oma”. Maklum, di antara para biarawati, Suster Regina yang tertua.

Suster Regina memang “Oma”. Namun, itu bukan nama bawaan lahir. Dia lahir dengan nama Margaretha, di sebuah desa di Kabupaten Pinrang. Tepatnya di Desa Suppirang.
“Saya menggunakan nama ‘Regina’ sebagai nama biara setelah mengucapkan kaul (janji hidup selibat, red) yang pertama,” ucap Suster Regina sambil mengingat-ingat masa lalunya.

Pada tahun 1950, Margaretha bersama 21 temannya masuk ke Biara Santo Walterus, Tomohon. Selama sepuluh bulan dia tinggal di biara sebagai calon biarawati. Setelah itu, masih di biara yang sama ia kemudian menjalani pendidikan sebagai murid selama dua tahun.

“Waktu mau berangkat ke Manado, papa saya (orang tua Suster Regina, red) bilang kalau kita ini tidak ada apa-apa. Artinya tidak ada ongkos buat ke Manado toh, tapi papa mengizinkan,” kenang Regina.

Diakuinya bahwa saat masih baru di biara, Regina sering berpikiran untuk keluar. “Biasa saya pikir, jangan-jangan saya ini tidak terpanggil. Saya pun sempat meminta pulang kepada kepala biara,” kata Regina. Telunjuknya membenarkan letak kacamata yang bertengger di hidungnya.

Setelah dua tahun pendidikan, Regina kemudian mengucapkan kaul pertama. Maka, resmilah dia menyandang nama Suster Regina Sassa, YMY.

“Saya lalu ke komunitas lain untuk pelayanan, di Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon, selama kurang lebih tiga tahun,” ujar perempuan yang baru saja merayakan 60 tahun atau enam decade hidup membiara, tepatnya 15 September lalu.

Regina tidak ingat lagi tanggal kelahirannya. “Kata papa itu hari, saya ini lahir tahun 1928, tapi kalau tanggalnya dia sudah tidak ingat,” ucap dia.
Sesekali Regina membuka kacamata. Ada air mata. Mungkin dia teringat masa lalu saat masih bersama keluarganya di kampung halaman.

“Tahun 1959 Kaul Kekal di Tomohon. Dan kita pe pindah ke Biara Rumah Sakit Stella Maris (Makassar, red) sampai tahun 1965. Terus ke Biara Paku, Makale selama sebelas tahun,” lanjut Regina dalam aksen Manado yang kental.

Ketika bertugas di Makale, Pesta Perak hidup membiaranya sempat dirayakan oleh biara setempat.

“Waktu saya pulang dari Manado, kong kita bertemu keluarga toh, sepupu-sepupu, mereka bilang, ‘We kitorang so ada anak dan cucu, apa kamu?’ Saya bilang kita dapat panggilan masing-masing. No kamu terpanggil untuk itu (hidup berkeluarga, red). Dan saya terpanggil untuk ini,” kenang Regina sambil sesekali tertawa.

Dalam menjalani hidup selibat atau membiara, Regina seringkali mendapatkan godaan dari beberapa orang untuk meninggalkan biara. Namun hatinya kukuh. Dia bergeming. Setiap godaan dia hanya memberi jawaban, “Kalau saya tidak mau, itu artinya tidak."
Regina kemudian melanjutkan pelayanannya di Biara Marampa’ Rantepao. Pada Januari 1980, dia kembali ke Makassar, tepatnya di Biara Rajawali.

“Sampai sekarang saya di sini (Biara Rajawali red) bekerja di kamar hosti,” jelas dia.

Hosti adalah sejenis wafer yang digunakan umat Katolik dalam Perjamuan Kudus atau Misa setiap Hari Minggu.

Di Biara Rajawali, Regina bertugas mencetak adonan hosti dengan menggunakan mesin khusus. Dia dibantu dua petugas lainnya. “Biasa juga ada suster (biarawati, red) lain yang ikut membantu,” ujar Regina.

Meskipun jalannya sudah agak terpincang-pincang, namun Regina tetap terlihat sehat dan selalu tersenyum. Dia tidak pernah mengeluh dalam melaksanakan tugas di Kamar Hosti. Walau kadang-kadang dia harus bertugas seorang diri ketika dua petugas yang sering membantunya tidak masuk kerja.

Dalam hidup membiara selama enam dekade, Regina selalu memegang prinsip ora et labora, artinya bekerja sambil berdoa.

“Saya senang sekali di Kamar Hosti, meskipun pekerjaannya berat dengan mesin dan sebagainya, karena dengan kerja itu, saya juga dapat berdoa,” kata Regina bersemangat. (*)

Makassar, 28 09 10