Sebagai sesama daerah aliran sungai, kiranya terjalin kerja sama yang baik. “Tidak perlu muluk-muluk, kami cuma butuh dedak…”
Kabut masih memenuhi pandangan ketika mobil yang ditumpangi rombongan Journalist Trip dari Makassar memasuki Bumi Lakipadada. Sepanjang jalur yang dilalui terbentang pemandangan serba hijau, dengan hiasan persawahan penduduk serta beberapa bukit yang menjulang.
Tiga mobil yang mengangkut kami akhirnya tiba di tujuan pada pukul 08.30 WITA. Jadwal hari ini adalah kunjungan ke Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) serta Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Sa’dan, Tana Toraja.
Rombongan kemudian beristirahat sejenak di ibu kota Toraja Utara, Rantepao. Sebagian anggota memanfaatkan waktu yang singkat untuk menyantap sarapan mi instan yang disiapkan salah seorang pendamping, Sitti Hadjar Akbar. Peserta yang lainnya memilih tidur.
Setelah beristirahat sekira 1,5 jam, para peserta meninggalkan peristirahatan. Tujuan selanjutnya ke Kota Makale, sesuai jadwal dari yang disiapkan panitia.
Yang pertama kami kunjungi adalah Kantor Dishutbun Tana Toraja. Dengan kata lain kami harus kembali melalui jalur yang sebelumnya.
Selama perjalanan, kami sempat menemui antrean panjang puluhan mobil di daerah Rantelemo. Mobil-mobil tersebut mengantre untuk mendapatkan jatah bensin di pompa bensin terdekat.
Kami juga dapat menyaksikan pemandangan serba hijau, serta aliran Sungai Sa’dan. Sungai yang kerap menjadi tujuan penggiat alam bebas untuk rafting ini tampak berwarna kecokelatan. Dari kejauhan, sungai ini terlihat lebih dangkal dibanding beberapa tahun lalu ketika saya berkunjung.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Kantor Dishutbun Tana Toraja. Letaknya tidak terlalu jauh dari kolam yang menjadi pusat Kota Makale.
Di gedung tersebut telah menanti Kadang, S.Hut, selaku Kepala Bidang Perlindungan dan Bina Hutan Dishutbun Tana Toraja. Pria berambut lurus ini memang ditugaskan untuk mendampingi kami.
Salah seorang fasilitator, Salma memulai perbincangan dengan memperkenalkan tim kepada tuan rumah.
Setelah kami memperkenalkan diri satu per satu, Kadang kemudian berbagi cerita kepada kami mengenai beberapa permasalahan yang berkaitan dengan DAS Sa’dan. Dimulai dari penjelasan kawasan hutan di Tana Toraja.
“Data pembagian hutan di sini berdasarkan fungsi kawasannya,” ujar Kadang. Yang dimanfaatkan sebagai fungsi hutan lindung seluas 90.905,533 hektare. Selanjutnya pada fungsi produksi terbatas (HPT) seluas 20.174,914 hektare.
”Selain itu ada pula jenis hutan rakyat, di mana pohon-pohon tumbuh di atas tanah milik rakyat,” lanjut pria ini.
Jenis hutan rakyat memang masih banyak ditemui di Tana Toraja, mengingat banyak masyarakat yang telah tinggal di tanah leluhurnya secara turun temurun. Sementara tanah tersebut berada di dalam kawasan hutan. Fenomena ini kemudian menjadi salah satu penyebab terjadinya kekritisan lahan.
Dijelaskan Kadang, beberapa masyarakat yang bermukim di kawasan hutan melakukan perambahan hutan secara besar-besaran untuk membangun kebun.
”Kami belum memiliki data pasti tentang jumlah kawasan hutan yang dijadikan kebun. Namun berdasarkan pantauan di lapangan memang sudah banyak yang terlihat,” urai Kadang.
Dishutbun Tana Toraja mendata, seluas 43.766 hektare kawasan hutan lindung berada dalam status sangat kritis. Sementara HPT yang berstatus sangat kritis seluas 12.242 hektare.
Dengan status demikian, kata Kadang, lahan tersebut perlu mendapat perhatian khusus. ”Dengan kata lain lahan sangat kritis perlu direhabilitasi,” ujarnya.
Demi mengurangi jumlah lahan kritis, ke depannya Dishutbun Tana Toraja akan membatasi para perusahaan kayu dalam beroperasi. Untuk melakukan penebangan pohon, harus memenuhi bebeapa syarat yang ditentukan.
”Di antaranya posisi kemiringannya, maupun diameter pohon yang akan ditebang,” jelas Kadang. Ia menambahkan, setiap pohon yang siap tebang akan diberi label khusus terlebih dahulu, yang membedakannya dengan pohon lainnya.
Selain permasalahan lahan kritis, Kadang juga mengungkapkan adanya masalah lain yang dialami Tana Toraja terkait DAS. Sebagai daerah hulu, selaiknya Tana Toraja dapat menikmati manfaat lebih. Tapi tidak demikian.
Salah satunya mengenai pemanfaatan untuk air minum (PAM). ”Saat ini masyarakat yang bisa menikmati PAM masih terbatas,” ujar Kadang.
Perlu diketahui bahwa wilayah DAS Sa’dan meliputi Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Luwu, Kota Palopo, Kabupaten Luwu Utara, dan Kabupaten Luwu Timur.
Selain masalah air minum, sawah di Tana Toraja juga mengalami kesulitan dalam hal pengairan. Hal ini akibat topografi Tana Toraja yang berbukit-bukit dan berada di kemiringan.
“Sebagai daerah hulu, kami sangat mengharapkan adanya subsidi silang dengan daerah hilir yang banyak mendapatkan manfaat dari DAS Sa’dan,” tutur kadang.
Salah satu hubungan timbal balik yang diharapkan Kadang adalah penggratisan dedak padi dari daerah-daerah hilir penghasil padi.
“Tidak perlu muluk-muluk, kami hanya butuh dedak,” ungkap Kadang. Bagi masyarakat Tana Toraja, dedak dimanfaatkan sebagai pakan ternak (babi).
Kalau tidak bisa gratis, lanjut Kadang, paling tidak harganya di bawah standar. ”Mereka kan sudah merasakan banyak manfaat dari DAS Sa’dan,” tuturnya.
Salah satu jalan keluar yang diinginkan adalah dengan membentuk suatu forum khusus DAS Sa’dan.
Forum yang dimaksud berupa wadah untuk berbagi / sharing terkait masalah DAS. Dengan forum tersebut diharapkan terjadinya simbiosis mutualisme antara daerah hulu dan hilir.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Itu menandakan waktu kunjungan kami telah habis.
Mengingat masih ada jadwal selanjutnya, tim kemudian memohon diri untuk melanjutkan perjalanan. (bersambung)
Makale-Tana Toraja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar