“MELALUI bekerja, saya dapat berdoa untuk menyertai pekerjaan …”
TEMPAT ini bukan di Manado tetapi sekejap suasana sangat kental dengan Bumi Tinutuan. Seorang suster tua menyapa dengan ramah.
“Tunggu jo sebentar, saya panggilkan Suster Regina,” ujar biarawati itu sambil menuju ke ruang dalam Biara Rajawali, Selasa, 28 September.
Di dalam ruangan terdapat lima sofa empuk. Sofa ini khusus disiapkan bagi tamu biara. Di depan sofa, terparkir sebuah meja kaca yang ditutupi selembar taplak ungu.
“Selamat siang,” terdengar sebuah suara pelan, bergetar.
Yang ditunggu sudah datang. Seorang biarawati tua berkacamata berbaju terusan serba putih, lengkap kerudung putih. Sambil berjabat tangan, senyuman hangat tersungging di bibir sang biarawati.
Di Biara Rajawali, perempuan ini akrab disapa “Oma”. Maklum, di antara para biarawati, Suster Regina yang tertua.
Suster Regina memang “Oma”. Namun, itu bukan nama bawaan lahir. Dia lahir dengan nama Margaretha, di sebuah desa di Kabupaten Pinrang. Tepatnya di Desa Suppirang.
“Saya menggunakan nama ‘Regina’ sebagai nama biara setelah mengucapkan kaul (janji hidup selibat, red) yang pertama,” ucap Suster Regina sambil mengingat-ingat masa lalunya.
Pada tahun 1950, Margaretha bersama 21 temannya masuk ke Biara Santo Walterus, Tomohon. Selama sepuluh bulan dia tinggal di biara sebagai calon biarawati. Setelah itu, masih di biara yang sama ia kemudian menjalani pendidikan sebagai murid selama dua tahun.
“Waktu mau berangkat ke Manado, papa saya (orang tua Suster Regina, red) bilang kalau kita ini tidak ada apa-apa. Artinya tidak ada ongkos buat ke Manado toh, tapi papa mengizinkan,” kenang Regina.
Diakuinya bahwa saat masih baru di biara, Regina sering berpikiran untuk keluar. “Biasa saya pikir, jangan-jangan saya ini tidak terpanggil. Saya pun sempat meminta pulang kepada kepala biara,” kata Regina. Telunjuknya membenarkan letak kacamata yang bertengger di hidungnya.
Setelah dua tahun pendidikan, Regina kemudian mengucapkan kaul pertama. Maka, resmilah dia menyandang nama Suster Regina Sassa, YMY.
“Saya lalu ke komunitas lain untuk pelayanan, di Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon, selama kurang lebih tiga tahun,” ujar perempuan yang baru saja merayakan 60 tahun atau enam decade hidup membiara, tepatnya 15 September lalu.
Regina tidak ingat lagi tanggal kelahirannya. “Kata papa itu hari, saya ini lahir tahun 1928, tapi kalau tanggalnya dia sudah tidak ingat,” ucap dia.
Sesekali Regina membuka kacamata. Ada air mata. Mungkin dia teringat masa lalu saat masih bersama keluarganya di kampung halaman.
“Tahun 1959 Kaul Kekal di Tomohon. Dan kita pe pindah ke Biara Rumah Sakit Stella Maris (Makassar, red) sampai tahun 1965. Terus ke Biara Paku, Makale selama sebelas tahun,” lanjut Regina dalam aksen Manado yang kental.
Ketika bertugas di Makale, Pesta Perak hidup membiaranya sempat dirayakan oleh biara setempat.
“Waktu saya pulang dari Manado, kong kita bertemu keluarga toh, sepupu-sepupu, mereka bilang, ‘We kitorang so ada anak dan cucu, apa kamu?’ Saya bilang kita dapat panggilan masing-masing. No kamu terpanggil untuk itu (hidup berkeluarga, red). Dan saya terpanggil untuk ini,” kenang Regina sambil sesekali tertawa.
Dalam menjalani hidup selibat atau membiara, Regina seringkali mendapatkan godaan dari beberapa orang untuk meninggalkan biara. Namun hatinya kukuh. Dia bergeming. Setiap godaan dia hanya memberi jawaban, “Kalau saya tidak mau, itu artinya tidak."
Regina kemudian melanjutkan pelayanannya di Biara Marampa’ Rantepao. Pada Januari 1980, dia kembali ke Makassar, tepatnya di Biara Rajawali.
“Sampai sekarang saya di sini (Biara Rajawali red) bekerja di kamar hosti,” jelas dia.
Hosti adalah sejenis wafer yang digunakan umat Katolik dalam Perjamuan Kudus atau Misa setiap Hari Minggu.
Di Biara Rajawali, Regina bertugas mencetak adonan hosti dengan menggunakan mesin khusus. Dia dibantu dua petugas lainnya. “Biasa juga ada suster (biarawati, red) lain yang ikut membantu,” ujar Regina.
Meskipun jalannya sudah agak terpincang-pincang, namun Regina tetap terlihat sehat dan selalu tersenyum. Dia tidak pernah mengeluh dalam melaksanakan tugas di Kamar Hosti. Walau kadang-kadang dia harus bertugas seorang diri ketika dua petugas yang sering membantunya tidak masuk kerja.
Dalam hidup membiara selama enam dekade, Regina selalu memegang prinsip ora et labora, artinya bekerja sambil berdoa.
“Saya senang sekali di Kamar Hosti, meskipun pekerjaannya berat dengan mesin dan sebagainya, karena dengan kerja itu, saya juga dapat berdoa,” kata Regina bersemangat. (*)
Makassar, 28 09 10
Tidak ada komentar:
Posting Komentar