DARI jari-jari mereka, tercipta pesona musik penuh semangat. Profesi atau sekadar hobi?
Dentuman musik techno dari dua buah speaker aktif memenuhi ruangan berukuran sekira 24 meter persegi. Di lantai berkarpet biru kehijauan, seorang pria asyik memainkan jarinya di tuts keyboard laptop dan sebuah controller.
Di sudut lain, seorang lagi sibuk mengoperasikan controller, mixer dan beberapa alat disk jockey lainnya. Sebuah headphone tercantol di kupingnya.
Saya tidak sedang berada dalam sebuah club atau pun tempat hiburan sejenisnya. Namun saya berada di studio milik sebuah komunitas yang menamakan diri “Confuse”.
Enam anggota Confuse menyambut saya saat bertandang ke studio mereka di bilangan Kompleks Lyly, Panakkukang Mas, ini. Mereka adalah Dj Dhona, Dj Dhedhe, Dj Echa, Dj Dheelo, dan Dj Rico serta Dj Rani.
“Beginilah suasana di studio kalau sedang akhir pekan. Kita lebih suka ngumpul di sini,” ucap Dj Echa, Minggu, 10 Oktober.
Confuse beranggotakan sekumpulan orang dengan hobi yang sama; cinta terhadap musik.Tapi dalam bermain musik mereka melakukannya dengan sentuhan yang berbeda. Musik yang ada mereka bongkar dan kemudian di-remix.
Tak hanya bermain musik, mereka juga aktif berbagi ilmu dengan siapa saja yang ingin belajar menjadi seorang disk jockey. Maka jadilah Confuse ini sebagai tempat kursus atau sekolah disk jockey.
Komunitas ini resmi terbentuk pada 1 Juli 2008, dengan markas awal di Makassar Town Square (M’Tos).
“Ide awal mendirikan Confuse ini dari ajakan seorang teman yang juga disk jockey di Jakarta. Melihat saat itu belum ada sekolah khusus disk jockey di Makassar, dan disk jockey di sini waktu itu masih sangat sedikit,” urai Dj Dhona yang merupakan pendiri Confuse.
Tak lama berselang lama setelah dibuka, sekolah disk jockey ini semakin diminati. Bukan cuma Makassar, bahkan ada yang berasal dari Papua dan Mataram.
Selama kurang lebih dua tahun berkiprah, sekolah ini telah menghasilkan tak kurang 20 disk jockey. Mereka tersebar di seluruh Indonesia.
Meskipun berkonsep sekolah dan telah menghasilkan banyak disk jockey, tujuan utama Confuse sebenarnya bukanlah untuk profesi menjadi disk jockey. Hal ini terbukti dengan latar belakang profesi masing-masing anggota yang bervariasi. Ada yang masih pelajar dan mahasiswa, maupun yang berprofesi sebagai pembalap, dosen, notaris, developer, dan bahkan ada yang mantan anggota manajemen artis ibu kota.
“Kami lebih bertujuan untuk menyalurkan hobi dan bakat di bidang ini (disk jockey, red). Istilahnya ya sebagai sampingan,” urai Dj Dheelo yang ternyata seorang dokter sekaligus dosen.
Satu yang menjadi kebanggaan para anggotanya, yakni kekeluargaan yang terjalin di Confuse sangat kental. Seperti yang terlihat ketika saya bertamu, studio mini ini tampak ramai dengan canda tawa.
Mereka menuturkan, banyak cerita yang didapat dari pengalaman menjadi anggota Confuse. “Awalnya saya sangat tertarik dengan musik disk jockey dan suka dugem (istilah bagi penikmati dunia gemerlap malam, red). Kemudian saya berpikir, daripada cuma sekadar dugem tapi tidak menghasilkan, saya pun gabung di sini,” tutur Dj Dhedhe.
Dj Dhedhe menambahkan, dia juga sangat senang dengan kekeluargaan yang didapatnya di Confuse.
Hampir sama dengan yang dirasakan Dj Rico, yang mengaku suka lagu-lagu disk jockey dan sering clubbing sebelum masuk Confuse.
Anggota Confuse lainnya pun merasakan banyak suka yang didapat dengan bergabung dalam komunitas ini. Selain kekeluargaan, jelas Dj Dhona, mereka juga jadi memperoleh banyak teman, dan bisa main (nge- disk jockey, red) ke mana-mana.
Dari sekian kisah yang dilalui, tak sedikit yang menyisakan cerita yang kurang mengenakkan. “Di sini kan image disk jockey di masyarakat cenderung negatif,” tutur Dj Dhona.
Selain itu, lanjutnya, masih ada club-club dan disk jockey di Makassar yang kurang respek dengan komunitas seperti Confuse. Tidak seperti di kota-kota lain, yang club-clubnya sangat welcome dengan komunitas-komunitas disk jockey.
Terlepas dari itu semua, para anggota Confuse tetap pada misi mereka dalam mengubah image negatif disk jockey. “Confuse ingin mengubah stigma negatif tersebut. Bahwa dunia disk jockey bukanlah sesuatu yang tabu dan negatif,” kata Dj Dhona. (*)
Panakkukang
09-10-10
Tidak ada komentar:
Posting Komentar