BANYAK cara mengekspresikan makna Sumpah Pemuda. Melalui pesan-pesan sastra juga bisa.
***
SEJUMLAH tenda memenuhi area Benteng Somba Opu, Rabu, 27 Oktober 2010. Sebuah baliho sekira 24 meter persegi menjadi penanda sedang berlangsungnya suatu kegiatan di tempat itu. Di situ terpampang tulisan “Perkampungan Seni Budaya dan Bahasa (Persada Hitam Putih)".
Ini bukan perkampungan biasa. “Penduduknya” adalah siswa dan siswi tingkat sekolah menengah atas dan sederajat dari sejumlah kabupaten di provinsi ini. Dalam beberapa hari, di tenda-tenda itulah para siswa dan siswi itu menginap.
Perkampungan ini dibuat khusus oleh Bengkel Sastra (Bestra) Dewan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (FBS UNM).
Dekan FBS UNM, Dr H Mansur Akil MPd, mengatakan, pihak dekan memberi support dan all out terhadap kreasi seperti ini. Mansur menyatakan, FBS ikut bertanggung jawab membina bahasa. “Salah satunya melalui kegiatan-kegiatan kebangsaan yang berisi muatan sastra dan budaya,” kata Mansur.
Ketua Panitia Persada Hitam Putih, Ririn Anggreani, mengatakan, pelaksanaan kegiatan ini dirangkaikan dengan Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda. Esensinya, sela Mansur, Persada Hitam Putih bertujuan mengajak generasi muda memaknai Sumpah Pemuda secara hakiki. Terutama butir mengenai berbahasa satu, Bahasa Indonesia.
Perkampungan para siswa dan siswi ini berlangsung hingga Minggu, 31 Oktober. Sejumlah agenda sudah tersusun. Di antaranya workshop budaya, sastra, dan teater, lomba puisi, pidato, hingga musik kreasi. Sabtu, 30 Oktober, peserta melakukan kunjungan budaya ke Museum La Galigo di Fort Rotterdam.
Masih dalam rangkaian Bulan Bahasa, kata Mansur, dalam kegiatan ini juga digelar seminar pengajaran sastra. Seminar digelar Kamis, 28 Oktober, hari ini. (*)
Makassar, 27 Oktober 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar