Kebahagiaan dan rasa bangga terpancar dari wajah kami, peserta Diksar VI Kompala Stikom Fajar (KSF), Muchtar Aburaera (Jalling), Ahmad Husain (Ucheng), Mardiah (Diah) dan Odilia Palamba (Odiel).
Kebanggaan karena berhasil mendapatkan slayer jingga dan segudang pengalaman baru setelah mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) VI Kompala Stikom Fajar selama 4 hari di Kabupaten Maros. “Slayer jingga” yang menandakan bahwa kami telah dikukuhkan menjadi anggota muda Komunikasi Pencinta Alam Stikom Fajar (KOMPALA SF).
Tak mulus jalan yang kami lalui untuk meraih slayer tersebut. Sebelum mengikuti pendidikan dasar lapangan, kami harus melalui beberapa tahapan yang penuh liku. Selain itu, kami pun harus menyiapkan mental dan fisik agar dapat mengikuti diksar lapangan dengan maksimal.
Hari Kamis 4 Mei 2006 tepat pukul 17.00, kami bersama beberapa panitia yang terdiri dari Kak Ochank, Kak Azis, Kak Chimot, Kak Iping, Kak Pian, dan Kak Ophal berangkat menuju lokasi diksar.
Matahari sudah bersembunyi ketika pete-pete dengan plat DD 1851 T membawa rombongan kami tiba di Desa Panaikkang, Maros. Di desa itu kami menginap di salah satu rumah penduduk yang bernama Bapak Mappi. Para penghuni rumah tersebut sangat ramah dan bersahabat. Bahkan kami sempat santap malam bersama dan bercerita tentang Desa Panaikang bersama mereka.
Setelah makan malam kami diberi materi Penanganan Pertama Pada Gawat Darurat (PPGD) oleh kakak-kakak senior. Selanjutnya Kak Ochank memberi arahan dan aturan-aturan yang wajib kami patuhi selama pelaksanaan diksar sekaligus pemilihan ketua tim. Di sini kami pun diberikan masing-masing nama lapangan yang akan menjadi panggilan kami selama diksar. Ucheng dipercaya memimpin tim diberi nama Bawakaraeng, Jalling mendapat nama Latimojong, Lompobattang untuk Odiel dan Bulusaraung nama untuk Mardiah. Sedangkan Tim kami diberi nama Kabut Rimba Leang-leang.
Keesokan harinya, sembari menyiapkan sarapan, kami menyempatkan diri melihat-lihat keindahan Desa Panaikang yang dikelilingi tebing-tebing cadas dan persawahan. Kicau burung-burung dan gemericik air sungai menambah keasrian desa tersebut.
Tepat pukul 09.00 wita,kami mulai treking menuju Desa Lampeso. Kak Ochank dan Kak Chimot, berjalan paling depan dan bertindak sebagai sebagai leader. Sementara Kak Pian dan Kak Iping yang berjalan di belakang kami bertugas sebagai sweeper (penyapu jalur). Kak Opal sendiri berjalan beriringan bersama kami karena tugasnya memang sebagai pendamping peserta diksar.
Untuk tiba di Desa Lampeso membutuhkan waktu perjalanan kira-kira tujuh jam. Selama trekking kami melalui medan yang lumayan sulit, seperti jalan berbatu yang licin dan agak terjal. Walaupun perjalanan tersebut sangat melelahkan, tapi semangat kami tak pernah surut. Malah semakin berapi-api dengan harapan segera tiba di Desa Lampeso.
Hari sudah sore saat kami tiba di Desa Lampeso. Setelah melapor kepada Kak Ochank selaku Korlap (koordinator lapangan) meminta ijin dengan pendamping, kami langsung mendirikan tenda di halaman sebuah rumah penduduk yang ditempati para senior menginap.
Desa Lampeso adalah sebuah desa yang terletak di kaki Gunung Bulusaraung. Dari desa itu kita dapat melihat jelas Puncak Bulusaraung yang menjulang kokoh. Selain Gunung Bulusaraung, desa itu juga dikelilingi hamparan sawah garapan penduduk setempat berpagar bukit-bukit yang berbaris rapi.
Perlahan tapi pasti sang waktu terus merangkak. Tak terasa pelaksanaan Diksar VI KSF telah memasuki hari ke-3, tepatnya pada tanggal, 6 Mei 2006, masih di Lampeso. Setelah sarapan seadanya para panitia dan kami pun packing, dan bersiap-siap melanjutkan perjalanan menuju Kampung Beru yang menjadi target camp hari ke tiga. Pukul 10.00 wita team leader sudah berangkat. Setengah jam kemudian kami, pendamping dan team sweeper menyusul.
Di tengah perjalanan, kami singgah di sebuah sungai untuk mandi. Kebetulan saat itu kami mendapati Kak Ochank dan Kak Chimot sedang beristirahat. Di sungai itu kami bermain air sepuasnya, layaknya anak kecil. Puas membersihkan badan dan bermain air, kami kemudian melanjutkan perjalanan setelah mendengar suara sempritan Kak Ochank, yang menandakan tim leader akan melanjutkan perjalanan.
Medan yang kami tempuh di hari kedua perjalanan lebih sulit dan lebih jauh jarak tempuhnya dibandingkan hari sebelumnya. Jalur yang kami lalui didominasi dengan jalur yang sangat terjal dan berbatu sehingga sesekali kami harus melakukan scrambling (berjalan sambil memanjat) agar dapat melaluinya. Selain itu, kami diharuskan menyeberangi sebuah sungai besar yang lumayan dalam sambil meniti lintasan tali yang dipasang Kak Ochank dan Kak Chimot.
Saat memasuki waktu Salat Maghrib, para senior memutuskan beristirahat di hutan pinus sekaligus untuk menyiapkan senter masing-masing. Saat itu, kegelapan telah menyelimuti hutan pinus.
Lewat waktu Maghrib, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan. Namun, baru beberapa menit kami berjalan, Bulusaraung tiba-tiba jatuh pingsan karena kelelahan. Untungnya, lokasi camp sudah dekat. Setelah mendapat perawatan dan Bulusaraung siuman, perjalanan kami lanjutkan.
Hari ke-4 diksar, setelah packing (berkemas), kami melanjutkan perjalanan menuju Bengo-bengo. Di sana, ternyata tim pejemput telah menanti. Setelah cuci kaki, kami pun naik ke rumah dan istirahat untuk persiapan pelantikan pada malam harinya.
Tepat pukul 19.00 wita, kami diminta mengenakan baju kaos diksar yang sudah dibagikan sebelumnya oleh Kak Ochank. Selanjutnya, kami mendapat arahan mengenai aturan yang harus kami taati pada proses pelantikan sebagai anggota muda.
Sebelum dilantik kami harus melalui beberapa pos untuk menguji mental dan fisik kami sebagai calon-calon pendaki tangguh yang taat etika.
Momen yang dinantikan akhirnya tiba, yaitu upacara pelantikan. Puncak acara kami dipanggil satu per satu untuk menerima pemasangan slayer dari para panitia,sebagai tanda pengukuhan kami menjadi Anggota Muda Kompala Stikom Fajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar