Tradisi…
Menurut beberapa orang tradisi tidak harus terus-menerus dilakukan. Tradisi bisa saja diubah atau digantikan dengan hal-hal lain yang lebih baru dan lebih modern. Dan tradisi itu perlahan demi perlahan dihilangkan dan untuk kemudian mati!
Ketika langkah dihadang dan asa dipatahkan, haruskah “Rakyat” pasrah dan tidak melakukan pertahanan? Para pejuang Rakyat, haruskah semuanya berakhir setragis ini? Hanya karena suatu aturan ataukah undang-undang atau apalah namanya “hukum itu” yang sama sekali tidak pernah diperlihatkan kepada kita, yang mengharuskan tradisi dihapuskan dan dihilangkan, tanpa sisa, tanpa suatu (atau beberapa mungkin) alasan yang jelas!
Teringat akan kata-kata dari seorang pejuang demokrasi, Wiji Tukul, “Hanya ada satu kata, LAWAN…”, tapi Rakyat tak seanarkis itu. Ketika sebuah sistem telah memaksa kita untuk tunduk dan beralih tradisi, Rakyat tidak akan bertindak brutal. Karena Rakyat adalah sekumpulan manusia -yang juga ciptaan Tuhan- yang juga punya hati nurani. Tapi kalau memang itu yang mereka minta, maka hanya ada satu kata dan tindakan, LAWAN!
Rakyat tidak akan pernah menyerah kepada kemunafikan. Rakyat hanya akan mengalah, tapi tidak kepada kemunafikan, hanya untuk menyiapkan perjuangan selanjutnya. Mengalah untuk kemenangan yang tertunda.
Para pengecut dan pengkhianat yang masih menganggap dirinya Rakyat… Dasar! Mereka seperti tidak punya rasa malu dan rasa bersalah secuil pun! Tanpa rasa berdosa, diantarkannya RAKYAT menuju “gerbang eksekusi”. Penjilat-penjilat, munafik, apa masih ada hati nurani di diri mereka? Mereka –sepertinya- bukan manusia! Setengah batu mungkin? Ataukah sepotong es di puncak Efferest? Beku, dingin, tak terlelehkan?!
Masihkah kau ingat kawan? Kala prosesi RAKYAT kita bertemu, dalam Lintas Angkatan para senior menghampiri dan menyapa kita untuk berkenalan.
Masihkah kuat dirimu kawan? Untuk merelakan kematian RAKYAT? Menghantarkan RAKYAT ke peristirahatan terakhir…
RAKYAT,,, tradisi yang tinggal kata…
Tinggal kenangan di benak dan hati kita…
“RAKYAT telah mati…”
Tapi bagi Rakyat, RAKYAT itu sendiri akan senantiasa ada di hati masing-masing.
Salam pembebasan, bagi saudara-saudariku seperjuangan, Rakyat STIKOM Fajar…
Jangan takut untuk berevolusi. Jika diam tak lagi menjadi jawaban atas segalanya, maka hanya ada satu kata dan tindakan, LAWAN…
Hidup RAKYAT !!!
[di hati kita]
Salam pembebasan…
20 sePt. 2007
@ hUmz
Tidak ada komentar:
Posting Komentar