Entah bagaimana kisah ini bermula, dan tanpa sadar diriku sudah tercantum di dalam alur ceritanya...
Seorang guru pernah berkata, "jika kau menganggap gunung hanyalah timbunan tanah, pepohonan, dan bebatuan, maka sama saja jika kau mengaggap dirimu hanya seonggok daging, tulang, yang dialiri darah.
Banyak arti yang tersirat dalam kalimat tersebut, namun makna yang saya tangkap adalah tentang bagaimana menghargai "sesuatu" atau "seseorang" di dunia ini.
Waktu bergulir membawa alur cerita ini semakin panjang dan jauh. seperti mata air yang mengalirkan airnya menuju sungai-sungai di sela-sela perbukitan yang berhulu di lautan lepas, dan tak lupa singgah di saluran kanal-kanal perkotaan.
Setiap saat saya bisa mendapat pelajaran baru dari Sang Guru, yang sangat sesuai dengan kenyataan yang ada dalam kehidupan. kekayaan ilmu dan pengetahuan betul-betul sangat bermanfaat bagi setiap individu.
Kaya harta hanyalah menimbulkan perasaan was-was, sebab sewaktu-waktu harta dapat habis dan hilang. sementara kekayaan ilmu dapat memberikan dampak positif, dengan membagikan ilmu yang dimiliki (namun tentunya tidak secara keseluruhan) kepada orang-orang yang mau belajar/berguru.
Ada kutipan yang menyebutkan; "Gunung adalah guru yang baik...", melalui kutipan ini saya dapat menganalogikan Sang Guru layaknya sebuah gunung.
Gunung senantiasa memberikan pelajaran berharga bagi orang-orang yang pernah menjelajahinya. bahkan sifat asli seseorang dapat dilihat saat mendaki gunung bersama-sama.
Layaknya cerita-cerita yang ada, cerita ini juga kadang memiliki situasi yang membuat tegang urat dan syaraf, hingga masuk ke klimaks yang menjadi puncak cerita ini.
Kebingungan di awal cerita kembali menghampiriku... Entah bagaimana permulaannya, ketika konflik itu datang bak sebuah "topan" yang langsung menghantam tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.
Ketika seutas tali yang bernama "silaturahmi" harus terputus, tanpa ada sebab yang jelas,,, sekarang semua hanyalah kenangan. Cukup diingat sebagai masa lalu, tanpa bisa kembali mengulangnya...
mKssR_o312o9
Seorang guru pernah berkata, "jika kau menganggap gunung hanyalah timbunan tanah, pepohonan, dan bebatuan, maka sama saja jika kau mengaggap dirimu hanya seonggok daging, tulang, yang dialiri darah.
Banyak arti yang tersirat dalam kalimat tersebut, namun makna yang saya tangkap adalah tentang bagaimana menghargai "sesuatu" atau "seseorang" di dunia ini.
Waktu bergulir membawa alur cerita ini semakin panjang dan jauh. seperti mata air yang mengalirkan airnya menuju sungai-sungai di sela-sela perbukitan yang berhulu di lautan lepas, dan tak lupa singgah di saluran kanal-kanal perkotaan.
Setiap saat saya bisa mendapat pelajaran baru dari Sang Guru, yang sangat sesuai dengan kenyataan yang ada dalam kehidupan. kekayaan ilmu dan pengetahuan betul-betul sangat bermanfaat bagi setiap individu.
Kaya harta hanyalah menimbulkan perasaan was-was, sebab sewaktu-waktu harta dapat habis dan hilang. sementara kekayaan ilmu dapat memberikan dampak positif, dengan membagikan ilmu yang dimiliki (namun tentunya tidak secara keseluruhan) kepada orang-orang yang mau belajar/berguru.
Ada kutipan yang menyebutkan; "Gunung adalah guru yang baik...", melalui kutipan ini saya dapat menganalogikan Sang Guru layaknya sebuah gunung.
Gunung senantiasa memberikan pelajaran berharga bagi orang-orang yang pernah menjelajahinya. bahkan sifat asli seseorang dapat dilihat saat mendaki gunung bersama-sama.
Layaknya cerita-cerita yang ada, cerita ini juga kadang memiliki situasi yang membuat tegang urat dan syaraf, hingga masuk ke klimaks yang menjadi puncak cerita ini.
Kebingungan di awal cerita kembali menghampiriku... Entah bagaimana permulaannya, ketika konflik itu datang bak sebuah "topan" yang langsung menghantam tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.
Ketika seutas tali yang bernama "silaturahmi" harus terputus, tanpa ada sebab yang jelas,,, sekarang semua hanyalah kenangan. Cukup diingat sebagai masa lalu, tanpa bisa kembali mengulangnya...
mKssR_o312o9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar