Inilah beberapa orang yang pernah dan berkenan menjadi narasumber saya :
Ini adalah Drs. Abdul Madjid Sallatu, MA; seorang dosen yang dengan rendah hati dan mau berbagi kisah sepanjang perjalanan hidup dan karirnya kepada saya.
Sr. Regina Sassa, JMJ; adalah biarawati yang telah lebih dari enam dekade mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan dan sesamanya.
Yang ini adalah Prof.Dr.Ir. Ambo Ala, MS; seorang dosen yang juga peduli akan keadaan lingkungan utamanya pertanian di Indonesia.
Sabtu, 11 Februari 2012
WAWANCARA = KOMUNIKASI
Ada pertanyaan yang harus dijawab, dan tentunya harus ada jawaban yang sesuai dengan pertanyaan yang diajukan . Selain itu, pelakunya ada dua orang atau lebih, di mana salah seorang atau beberapa mengajukan pertanyaan kepada seorang atau sebaliknya. Kira-kira begitulah penjelasan sederhana mengenai sebuah proses wawancara. Pada intinya, ada orang yang bertanya (penanya atau pewawancara), dan ada orang yang ditanya atau diwawancara.
Beberapa kali dalam hidup kita pasti pernah mengalami suatu kejadian atau momen yang sama seperti dijelaskan di atas. Entah itu wawancara kerja, mewawancarai orang, ataupun sekedar tanya-jawab dengan beberapa teman. Demikian halnya dengan saya, bermacam-macam wawancara pernah saya temui dan lakukan.
Di awal saya terjun ke dunia kerja, sama seperti pekerjaan lainnya yakni ada saat saya harus melalui proses wawancara dengan pimpinan perusahaan maupun orang-orang yang berkepentingan dalam hal menerima karyawan baru. Waktu itu atas rekomendasi seorang kawan, saya mendaftarkan diri di sebuah perusahaan media cetak. Saya tidak perlu bagaimana proses sebelum saya mendaftar, tapi yang saya ingin ceritakan adalah bagaimana saya diwawancara. Saya memang akhirnya dinyatakan lolos berkas, dan berhak mengikuti tes tulis dan wawancara. Ternyata proses wawancara yang harus saya hadapi jauh melenceng dari yang ada di pikiran saya. Tak hanya seorang yang mewawancarai saya, tapi sebuah tim yang berjumlah empat orang. Secara bergiliran saya mendatangi orang-orang tersebut. Meskipun ruangannya ber-AC, tapi keringat dingin sempat mengalir dari dahi saya. Beragam pertanyaan tentang kegiatan saya serta pertanyaan yang menguji pengetahuan umum saya diajukan. Puji Tuhan saya bisa melalui semua itu dengan lancar, meskipun ada beberapa jawaban yang meragukan dan saya diterima menjadi reporter.
Maka mulailah pengalaman pertama saya untuk terjun di dunia jurnalistik. Di pekerjaan yang saya geluti ini, wawancara menjadi sebuah kebutuhan. Saya senantiasa terjun ke lapangan untuk meliput suatu peristiwa atau kejadian yang menarik. Karena tanpa melakukan wawancara kepada narasumber, tentu saya tidak akan menghasilkan data yang sesuai dan akurat untuk diberitakan.
Pada awalnya memang saya agak canggung untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada orang yang sama sekali tidak dan belum saya kenal. Namun lama kelamaan saya akhirnya terbiasa, dan untuk urusan mewawancarai narasumber, saya sangat menikmatinya. Apalagi bila saya mendapatkan kesempatan mewawancara narasumber yang dengan senang hati berbagi kisah dan cerita serta tidak pelit memberi informasi. Kegiatan ini saya lalui dengan semangat dan antusias, meskipun tak jarang kejenuhan menerpa.
Dari pengalaman saya selama kurang lebih enam bulan bekerja di dunia cetak, kegiatan wawancaralah yang mendominasi. Namun ada masa saya akan mengalami gugup dan stress bila menghadapi wawancara. Ya,, saya sangat (bagaimana ya membahasakannya?) sangat tidak menikmati bila posisi wawancara tersebut ditukar, di mana di saya yang harus ditanya-tanya. Sangking tidak fokusnya, terkadang kata-kata dan jawaban yang ada di dalam pikiran saya malah jadi tidak terucapkan dan terlupakan. >>kerja lidah saya tidak sejalan dengan otak<<. Salah satu contoh di mana saya berada pada posisi yang diajukan pertanyaan adalah ketika menghadapi para penguji saat seminar proposal judul dan ujian meja. Beruntung di kedua momen tersebut saya tidak merasakan grogi ataupun ketakutan yang berlebihan sehingga akhirnya kedua ujian tersebut bias berjalan dengan lancar. (buktinya sekarang di belakang namaku sudah ada tambahan empat huruf, hehe). Kesempatan lain saya mengalami masa diwawancarai adalah ketika mendaftarkan diri di sebuah perusahaan retail (toko buku). Di sana saya dua kali diwawancara. Yang pertama oleh dua orang wanita yang cukup memiliki jabatan tinggi di sana. Keduanya sempat bertanya tentang hobi dan keahlian yang saya miliki. Selain itu mereka juga sempat menanyakan kebiasaan buruk (bad habit) saya. Aduh, saya pun akhirnya menjawab sesuai dengan apa yang menurut (kesadaran) saya ada pada diri saya. Pada wawancara kedua saya harus berhadapan dengan pimpinan toko tersebut. Well, wawancara berjalan lancar dan santai, bahkan terbilang agak lama karena banyak pertanyaan yang diajukan dan tentunya banyak jawaban yang kemudian menjadi cerita. Pada intinya wawancara dengan pimpinan itu tidaklah se-horror yang pernah saya lihat di film-film maupun yang sempat terlintas di benak saya. Terkadang kita memang tidak sadar bahwa proses wawancara yang bila disederhanakan dapat disebut sebagai dialog atau komunikasi menjadi salah satu partikel kehidupan. Contohnya saja ketika bertemu dengan orang baru saat memasuki lingkungan baru pasti diawali saling bertanya tentang diri masing-masing. Seperti halnya yang pernah saya alami, wawancara dengan beberapa narasumber yang low profile akan menumbuhkan keakraban. Jadinya, proses wawancara ataupun perkenalan selanjutnya akan berjalan dengan baik dan menyenangkan.
Se-introvert apapun seseorang, pastilah harus bersosialisasi. Saya pun mengakui sebagai orang yang tertutup, tapi sampai sekarang saya bersyukur karena memiliki banyak teman yang baik hati dan menyenangkan.
Makassar, 11 Ferbuari ‘12
Beberapa kali dalam hidup kita pasti pernah mengalami suatu kejadian atau momen yang sama seperti dijelaskan di atas. Entah itu wawancara kerja, mewawancarai orang, ataupun sekedar tanya-jawab dengan beberapa teman. Demikian halnya dengan saya, bermacam-macam wawancara pernah saya temui dan lakukan.
Di awal saya terjun ke dunia kerja, sama seperti pekerjaan lainnya yakni ada saat saya harus melalui proses wawancara dengan pimpinan perusahaan maupun orang-orang yang berkepentingan dalam hal menerima karyawan baru. Waktu itu atas rekomendasi seorang kawan, saya mendaftarkan diri di sebuah perusahaan media cetak. Saya tidak perlu bagaimana proses sebelum saya mendaftar, tapi yang saya ingin ceritakan adalah bagaimana saya diwawancara. Saya memang akhirnya dinyatakan lolos berkas, dan berhak mengikuti tes tulis dan wawancara. Ternyata proses wawancara yang harus saya hadapi jauh melenceng dari yang ada di pikiran saya. Tak hanya seorang yang mewawancarai saya, tapi sebuah tim yang berjumlah empat orang. Secara bergiliran saya mendatangi orang-orang tersebut. Meskipun ruangannya ber-AC, tapi keringat dingin sempat mengalir dari dahi saya. Beragam pertanyaan tentang kegiatan saya serta pertanyaan yang menguji pengetahuan umum saya diajukan. Puji Tuhan saya bisa melalui semua itu dengan lancar, meskipun ada beberapa jawaban yang meragukan dan saya diterima menjadi reporter.
Maka mulailah pengalaman pertama saya untuk terjun di dunia jurnalistik. Di pekerjaan yang saya geluti ini, wawancara menjadi sebuah kebutuhan. Saya senantiasa terjun ke lapangan untuk meliput suatu peristiwa atau kejadian yang menarik. Karena tanpa melakukan wawancara kepada narasumber, tentu saya tidak akan menghasilkan data yang sesuai dan akurat untuk diberitakan.
Pada awalnya memang saya agak canggung untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada orang yang sama sekali tidak dan belum saya kenal. Namun lama kelamaan saya akhirnya terbiasa, dan untuk urusan mewawancarai narasumber, saya sangat menikmatinya. Apalagi bila saya mendapatkan kesempatan mewawancara narasumber yang dengan senang hati berbagi kisah dan cerita serta tidak pelit memberi informasi. Kegiatan ini saya lalui dengan semangat dan antusias, meskipun tak jarang kejenuhan menerpa.
Dari pengalaman saya selama kurang lebih enam bulan bekerja di dunia cetak, kegiatan wawancaralah yang mendominasi. Namun ada masa saya akan mengalami gugup dan stress bila menghadapi wawancara. Ya,, saya sangat (bagaimana ya membahasakannya?) sangat tidak menikmati bila posisi wawancara tersebut ditukar, di mana di saya yang harus ditanya-tanya. Sangking tidak fokusnya, terkadang kata-kata dan jawaban yang ada di dalam pikiran saya malah jadi tidak terucapkan dan terlupakan. >>kerja lidah saya tidak sejalan dengan otak<<. Salah satu contoh di mana saya berada pada posisi yang diajukan pertanyaan adalah ketika menghadapi para penguji saat seminar proposal judul dan ujian meja. Beruntung di kedua momen tersebut saya tidak merasakan grogi ataupun ketakutan yang berlebihan sehingga akhirnya kedua ujian tersebut bias berjalan dengan lancar. (buktinya sekarang di belakang namaku sudah ada tambahan empat huruf, hehe). Kesempatan lain saya mengalami masa diwawancarai adalah ketika mendaftarkan diri di sebuah perusahaan retail (toko buku). Di sana saya dua kali diwawancara. Yang pertama oleh dua orang wanita yang cukup memiliki jabatan tinggi di sana. Keduanya sempat bertanya tentang hobi dan keahlian yang saya miliki. Selain itu mereka juga sempat menanyakan kebiasaan buruk (bad habit) saya. Aduh, saya pun akhirnya menjawab sesuai dengan apa yang menurut (kesadaran) saya ada pada diri saya. Pada wawancara kedua saya harus berhadapan dengan pimpinan toko tersebut. Well, wawancara berjalan lancar dan santai, bahkan terbilang agak lama karena banyak pertanyaan yang diajukan dan tentunya banyak jawaban yang kemudian menjadi cerita. Pada intinya wawancara dengan pimpinan itu tidaklah se-horror yang pernah saya lihat di film-film maupun yang sempat terlintas di benak saya. Terkadang kita memang tidak sadar bahwa proses wawancara yang bila disederhanakan dapat disebut sebagai dialog atau komunikasi menjadi salah satu partikel kehidupan. Contohnya saja ketika bertemu dengan orang baru saat memasuki lingkungan baru pasti diawali saling bertanya tentang diri masing-masing. Seperti halnya yang pernah saya alami, wawancara dengan beberapa narasumber yang low profile akan menumbuhkan keakraban. Jadinya, proses wawancara ataupun perkenalan selanjutnya akan berjalan dengan baik dan menyenangkan.
Se-introvert apapun seseorang, pastilah harus bersosialisasi. Saya pun mengakui sebagai orang yang tertutup, tapi sampai sekarang saya bersyukur karena memiliki banyak teman yang baik hati dan menyenangkan.
Makassar, 11 Ferbuari ‘12
Jumat, 07 Januari 2011
Dari Mercusuar, Lalu Tugu, Kelak Hilang
*Jejak Situs di Depan Fort Rotterdam
JEJAK perjalanan sejarah Makassar semakin memiriskan. Bahkan terancam punah.
***
SEJUMLAH kendaraan berlalu lalang di sepanjang Jalan Ujung Pandang. Tepat di seberang Fort Rotterdam berdiri sebuah tugu atau monumen berwarna putih. Bentuk tugu itu menyerupai sebuah pilar dengan sebuah tulisan “Pahlawan Indonesia”.
Tugu setinggi sekira lima meter ini dikeliling pagar seng bercat biru. Tampaknya di dalamnya akan dibangun sebuah bangunan baru. Ini terlihat dari tulisan “dilarang masuk” berwarna merah.
Tidak banyak warga yang tahu kalau pada masa lampau, beberapa ratus tahun lalu di tempat itu berdiri sebuah mercusuar buatan Belanda. Namun kini, sisa-sisa fisik bangunan tersebut sama sekali tidak ada.
Dikisahkan salah seorang staf dokumentasi dan publikasi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Makassar, Mohammad Natsir, pembangunan mercusuar tersebut berlangsung pada masa pendudukan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda di Benteng Ujungpandang (Fort Rotterdam).
“Pendudukan VOC di Benteng Ujung Pandang dimulai pada tahun 1627, baru kemudian mengganti nama benteng menjadi Fort Rotterdam,” tutur Natsir menjelaskan.
Saat itu, Bandar Somba Opu diruntuhkan, sehingga aktivitas perdagangan berpusat di Pelabuhan Makassar. Mengingat kekuatan VOC di bidang perdagangan harus melalui jalur laut, maka di jaman itu diadakan pembangunan besar-besaran untuk kelengkapan fasilitas Pelabuhan Bandar Makassar (sekarang Pelabuhan Soekarno Hatta). Di antaranya seperti beberapa gudang penyimpanan serta mercusuar di depan bangunan Benteng Fort Rotterdam.
Mercusuar itu dibangun sebagai tempat untuk memantau jalannya alur lalu lintas perdagangan laut Makassar. Sengaja ditempatkan di depan Benteng Fort Rotterdam untuk memudahkan VOC dalam melakukan pemantauan.
“Mercusuar tersebut merupakan salah satu bagian terpenting dalam kegiatan perdagangan Pelabuhan Bandar Makassar,” ucap Natsir, Jumat, 7 Januari.
Dia menyebutkan, tidak ada data pasti mengenai tahun dimulainya pembangunan mercusuar tersebut.
Dengan proses pemantauan yang aktif dan terarah, tak heran bila VOC berhasil menjadikan Pelabuhan Makassar menjadi sebuah pelabuhan bebas. Pada jaman itu, sekitar abad 18-19, Pelabuhan Makassar sedang berada pada masa kejayaannya.
Pada masa itu, tingkat pertumbuhan ekonomi sedang dimulai. Ini ditunjukkan dengan dibangunnya sebuah bank di Jalan Nusantara, pada tahun 1900-an. Bank Javanese tersebut juga menjadi salah satu bagian dari perjalanan sejarah Kota Makassar.
Sayangnya kejayaan Pelabuhan Makassar pada waktu itu tidak berlangsung sampai sekarang. Natsir menyebutkan, nilai historis kota jangan sampai dihilangkan, karena ini merupakan salah satu kunci Makassar untuk menuju kota dunia.
Kini, tugu itu sepertinya terancam keberadaannya dengan pagar seng yang mengitarinya. Di sekitarnya pun kini sedang berlangsung pembangunan yang lainnya. Entah berapa bukti sejarah Makassar lagi yang akan hilang dan punah. (*)
Jalan Ujung Pandang, Makassar
07 Januari 2011
JEJAK perjalanan sejarah Makassar semakin memiriskan. Bahkan terancam punah.
***
SEJUMLAH kendaraan berlalu lalang di sepanjang Jalan Ujung Pandang. Tepat di seberang Fort Rotterdam berdiri sebuah tugu atau monumen berwarna putih. Bentuk tugu itu menyerupai sebuah pilar dengan sebuah tulisan “Pahlawan Indonesia”.
Tugu setinggi sekira lima meter ini dikeliling pagar seng bercat biru. Tampaknya di dalamnya akan dibangun sebuah bangunan baru. Ini terlihat dari tulisan “dilarang masuk” berwarna merah.
Tidak banyak warga yang tahu kalau pada masa lampau, beberapa ratus tahun lalu di tempat itu berdiri sebuah mercusuar buatan Belanda. Namun kini, sisa-sisa fisik bangunan tersebut sama sekali tidak ada.
Dikisahkan salah seorang staf dokumentasi dan publikasi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Makassar, Mohammad Natsir, pembangunan mercusuar tersebut berlangsung pada masa pendudukan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda di Benteng Ujungpandang (Fort Rotterdam).
“Pendudukan VOC di Benteng Ujung Pandang dimulai pada tahun 1627, baru kemudian mengganti nama benteng menjadi Fort Rotterdam,” tutur Natsir menjelaskan.
Saat itu, Bandar Somba Opu diruntuhkan, sehingga aktivitas perdagangan berpusat di Pelabuhan Makassar. Mengingat kekuatan VOC di bidang perdagangan harus melalui jalur laut, maka di jaman itu diadakan pembangunan besar-besaran untuk kelengkapan fasilitas Pelabuhan Bandar Makassar (sekarang Pelabuhan Soekarno Hatta). Di antaranya seperti beberapa gudang penyimpanan serta mercusuar di depan bangunan Benteng Fort Rotterdam.
Mercusuar itu dibangun sebagai tempat untuk memantau jalannya alur lalu lintas perdagangan laut Makassar. Sengaja ditempatkan di depan Benteng Fort Rotterdam untuk memudahkan VOC dalam melakukan pemantauan.
“Mercusuar tersebut merupakan salah satu bagian terpenting dalam kegiatan perdagangan Pelabuhan Bandar Makassar,” ucap Natsir, Jumat, 7 Januari.
Dia menyebutkan, tidak ada data pasti mengenai tahun dimulainya pembangunan mercusuar tersebut.
Dengan proses pemantauan yang aktif dan terarah, tak heran bila VOC berhasil menjadikan Pelabuhan Makassar menjadi sebuah pelabuhan bebas. Pada jaman itu, sekitar abad 18-19, Pelabuhan Makassar sedang berada pada masa kejayaannya.
Pada masa itu, tingkat pertumbuhan ekonomi sedang dimulai. Ini ditunjukkan dengan dibangunnya sebuah bank di Jalan Nusantara, pada tahun 1900-an. Bank Javanese tersebut juga menjadi salah satu bagian dari perjalanan sejarah Kota Makassar.
Sayangnya kejayaan Pelabuhan Makassar pada waktu itu tidak berlangsung sampai sekarang. Natsir menyebutkan, nilai historis kota jangan sampai dihilangkan, karena ini merupakan salah satu kunci Makassar untuk menuju kota dunia.
Kini, tugu itu sepertinya terancam keberadaannya dengan pagar seng yang mengitarinya. Di sekitarnya pun kini sedang berlangsung pembangunan yang lainnya. Entah berapa bukti sejarah Makassar lagi yang akan hilang dan punah. (*)
Jalan Ujung Pandang, Makassar
07 Januari 2011
Minggu, 02 Januari 2011
Belajar Mandiri Sejak Dini untuk Hari Depan
*Menengok Aktivitas Panti Asuhan dan Panti Werdha Pangamaseang
BERBAGI kasih dengan anak-anak yang mengalami luka masa lalu. Demikian tujuan pembangunan Panti Asuhan dan Panti Werdha Pangamaseang.
***
SEBUAH bangunan berpagar putih berdiri kokoh di sebuah sudut jalan Baji Gau II. Dua remaja putri terlihat sedang sibuk menyapu halaman bangunan tersebut. Gemerisik sapu lidi dari tangan keduanya yang menyapu tanah menandakannya.
Panti Asuhan dan Panti Werdha Pangamaseang. Demikian yang tertera di sebuah papan penunjuk di atas pagar.
Saat saya mendekati pagar dan mengetuk-ngetuk gerendel pagar, kedua remaja itu spontan berbalik secara bersamaan. Aktivitas mereka terhenti sejenak sambil memperhatikan kedatangan saya.
“Lewat samping ki’ kak,” salah seorang di antaranya memberitahukan jalan masuk kepada saya.
Di sebelah kanan pagar saya menapaki sebuah jalan sepanjang lima meter. Seorang penghuni panti kembali saya dapatkan. Kali ini seorang wanita yang berjalan tertatih-tatih dengan bantuan alat penyangga. Rambutnya yang sebahu tampak memutih.
Saya kemudian menanyai sang wanita. “Ada Pastor, Bu?”
Wanita itu terdiam sejenak, tampak berpikir. “Mungkin ada di dapur,” jawabnya kemudian sambil menunjukkan arah yang dimaksud.
Saat mendekati pintu dapur, tiba-tiba si wanita berkata lagi. “Atau coba cari di kamarnya, itu di sana,” ujarnya tampak kebingungan.
Saya kemudian menuju sebuah bangunan seukuran kamar yang dimaksud wanita tadi. Semakin mendekat, dari jendela kamar tersebut saya dapat melihat sosok seseorang yang sedang sibuk menekuni kegiatannya di balik sebuah komputer. Dialah sang pastor yang saya cari.
Saya menuju pintu kamar itu sambil mengetuk. “Selamat pagi, Pastor,” ujar saya menyapa.
Dari dalam terdengar sahutan, “Ya.” Jawaban itu diiringi suara langkah-langkah mendekati pintu.
Pintu terbuka, dan seraut wajah yang cukup familiar muncul. Pastor Van Rooij, demikian sosok ini dikenal di kalangan umat Katolik di Makassar.
Sang Pastor kemudian menyilakan saya masuk ke ruangan yang ternyata sebuah ruang kerja.
“Mari masuk ke kandang Betlehem, tapi ini sangat rantasa’,” ajak Pastor berdarah Belanda ini.
Meskipun keturunan luar negeri, Van Rooij sangat fasih menggunakan dialek Makassar. Bagaimana tidak? Pastor ini sudah 42 tahun bermukim di Indonesia, tepatnya di Keuskupan Agung Makassar.
Van Rooij adalah pendiri sekaligus pembina dari kedua panti yang saya kunjungi ini. Panti Asuhan dan Panti Werdha Pangamaseang. Meskipun berada dalam satu area, keduanya tidak berdiri secara bersamaan.
Dikisahkan Van Rooij, panti tersebut dulunya adalah sebuah pabrik roti. Entah sejak kapan bangunan tersebut berdiri di Jalan Baji Gau.
“Pada tahun 1995, panti asuhan ini mulai dibangun,” kenang Van Rooij sambil megajak saya menuju ke dalam area panti. Pembangunan panti ini sebagai salah satu bentuk sifat sosial sang Pastor.
Saat melewati dapur, beberapa remaja putri dan putra sedang sibuk memasak. Ada yang memotong-motong sayur, ada yang menggoreng tempe dan tahu.
Diungkapkan Van Rooij, pembangunan Panti Asuhan dan Panti Werdha Pangamaseang bermula dari perbincangannya dengan mantan Uskup Agung Makassar, Alm. Mgr Frans van Roessel.
“Dia kemudian memberi dorongan kepada saya untuk mendirikan Yayasan Sosial Keuskupan Agung Makassar dan mengambil inisiatif untuk memulai sebuah panti asuhan,” urai dia mengisahkan.
Pembangunan panti kemudian dapat berjalan lancar berkat bantuan dari segenap umat Keuskupan Agung Makassar. Tak hanya itu, lanjut Van Rooij, banyak anggota masyarakat yang bermukim di sekitar panti juga turut memberikan dukungan dalam pembangunan panti asuhan tersebut.
“Saya merasa bersyukur karena dapat membahagiakan anak-anak yang membutuhkan kasih sayang dan cinta kasih ini,” tutur mantan Vikaris Episkopal Makassar ini.
Diakuinya, perasaan anak-anak tersebut dapat dipahaminya, karena sejak kecil Van Rooij telah ditinggal mati sang ayah, Alm Marinus Van Rooij. Dengan bimbingan sang ibu, Petronella Hoorn, Van Rooij akhirnya dapat tumbuh menjadi pribadi yang senang memberikan pelayanan sosial.
Sampai saat ini, Panti Asuhan dan Panti Werdha Pagamaseang telah mengasuh puluhan anak. Baik yang yatim piatu, maupun yang tidak diperhatikan dan dibuang keluarganya.
“Sekarang anak-anak di sini ada 25 orang,” jelas sang pembina. Anak-anak tersebut berkisar pada usia taman kanak-kanak hingga ada yang sudah di bangku kuliah.
Pengelola Panti Asuhan Pangamaseang, Suster Yosephine Palit YMY, menjelaskan, mereka berasal dari beragam suku dan daerah yang ada di Indonesia. Ada yang dari Toraja, Muna, Ambon, dan bahkan ada yang dari Papua.
“Mereka datang ke panti kebanyakan dibawa oleh para pastor paroki di daerah masing-masing,” ucap Van Rooij menjelaskan. Ada pula anak-anak yang dibawa langsung oleh keluarga yang tidak mampu lagi mengurusnya.
“Banyak anak di sini yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga oleh keluarga mereka sendiri,” sela Sr Yosephine. Dia menunjukkan salah seorang anak yang masih TK yang berasal dari Flores sebagai contohnya.
Diuraikan Sr. Yosephine anak tersebut sering mendapat perlakuan kasar dari orang tuanya. “Dulu waktu masih di Flores dia sering dipukul bahkan sampai disileti,” tutur Sang Suster dengan mata berkaca-kaca.
Selama di panti, ke semua anak tersebut disekolahkan dan diberikan beragam pengetahuan tambahan. Mereka juga tak lupa dibina untuk mulai mandiri sejak usia dini.
“Setiap hari mereka dibiasakan membersihkan area panti, serta membantu di pabrik lilin,” ujar Van Rooij saat mengajak saya memasuki pabrik lilin yang terletak di dalam area panti.
Di dalam ruangan tersebut terdapat beberapa karung bahan baku lilin. Di rak yang berada di bagian dalam terdapat deretan lilin aneka warna dan bentuk.
Selain itu, anak-anak panti juga diberikan dorongan untuk mendapatkan nilai yang baik dalam ujian di sekolah. Salah satu contohnya saat Natal kemarin, mereka dijanjikan akan diberikan insentif oleh Pastor Van Rooij bila tidak mendapat nilai merah di raport.
“Puji Tuhan dengan dorongan seperti itu, nilai mereka jadi membaik,” ucap Van Rooij penuh syukur.
Dijelaskan Van Rooij, saat ini sudah lebih dari sepuluh anak yang telah mandiri dan memiliki pekerjaan masing-masing. Mereka bahkan saat ini sudah tinggal sendiri di luar panti.
Untuk memperhatikan kesehatan seluruh “anaknya”, dalam waktu dekat Van Rooij juga merencanakan untuk menyewakan rumah untuk perawat bagi mereka di sekitar panti. Tujuannya agar dapat mengontrol kesehatan mereka lebih cepat.
“Satu yang saya harapkan, agar ke depan mereka dapat berhasil dan tidak lagi mengingat luka masa lalu dan masa kecil yang dialaminya dulu,” kunci Pastor yang menjuluki dirinya “Monyet Putih” ini. (*)
Baji Gau, Makassar 21 Desember 2010
Minggu, 12 Desember 2010
Ketika Anjing Berunjuk Gaya
Tak sekadar piaraan, anjing juga bisa menjadi sahabat manusia. hewan berkaki empat ini pun bisa menghasilkan uang yang berlimpah.
Riuh gonggongan anjing memenuhi main hall Mal Graha Tata Cemerlang (GTC), Minggu, 12 Desember kemarin. Sebuah area beralaskan karpet berwarna hijau tampak dikelilingi beberapa kotak penyimpanan anjing.
Di beberapa sudut area tersebut nampak beberapa orang sedang sibuk menyisir dan membersihkan anjing piaraannya. Di sisi lain tampak beberapa pengunjung menyempatkan diri mengabadikan gambar dari berbagai anjing yang lucu tersebut.
Sepanjang dua hari kemarin, pengunjung Mal GTC memang mendapatkan hiburan yang berbeda. Di hari itu sedang berlangsung Pameran Anjing (dog show) Multi Trah. All Breed: Makassar 2nd Dog Show 2010, demikian tema even ini.
Even ini merupakan ajang yang dilaksanakan oleh Perkumpulan Kinologi Indonesia (PERKIN). Ada 78 ekor anjing dari seluruh Indonesia yang hadir memeriahkan even ini.
Beragam jenis anjing dari ukuran mini sampai yang super jumbo berkumpul dan menunjukkan tingkah yang lucu dan menggemaskan. Mulai dari jenis dobermann, golden retrievier, rottweiler, chihuahua, poodle, shihtzu, hingga pomeranian ada di ajang ini.
Tingkah pola hewan berkaki empat tersebut tak jarang mengundang gelak tawa. Seperti saat beberapa ekor golden retrievier yang tiba-tiba membuang kotoran di tengah arena ketika sedang dinilai oleh juri.
Ada lagi seekor anjing pomeranian yang tidak mau mengikuti perintah sang majikan untuk berlari mengelilingi arena. Anjing kecil tersebut tiba-tiba bersemangat ketika seekor anjing besar masuk di arena, sehingga mereka saling berkejaran.
Anjing-anjing ini tak sekadar pamer aksi dan gaya di tengah arena. Ada penilaian khusus yang diberikan setiap juri yang hadir ke setiap anjing yang tampil.
“Penilaiannya seperti pemeriksaan susunan gigi, kondisi bulu, serta keaktifan si anjing tersebut,” tutur Ronny Wirawan selaku ketua panitia acara ini. Dia melanjutkan, setiap anjing memiliki kriteria masing-masing, mulai dari tingginya, berat, dan bulunya.
Juri yang datang menilai pada even ini pun tidak asal pilih. Di antaranya Graham Kerr dari Australia, Andi Hudono, dan Agus Wardhana. Ketiganya telah berpengalaman di bidang hewan khususnya jenis anjing.
Ronny mengungkapkan, ajang ini diadakan tidak hanya untuk menggalakkan kecintaan terhadap anjing. Melalui even ini PERKIN mengharapkan agar anjing jenis Trah dapat diangkat dan dikenal secara umum.
Anjing dikenal sebagai salah satu satwa yang paling setia, maka tak heran bila banyak orang yang ingin dan gemar memliharanya. Namun, untuk membesarkan anjing, butuh perawatan yang ekstra serta tentunya biaya yang tidak sedikit.
Seperti yang diungkapkan salah seorang peserta dari Bandung, Jesselyn. Dalam pameran ini, dia memboyong dua anjing untuk ikut lomba.
“Setiap hari harus diberi makanan yang cukup dan sesuai, selain itu perlu dimandikan setiap tiga hari sekali,” urai wanita berkulit putih ini. Untuk menjaga bulu anjingnya tetap indah, Jesselyn selalu menyisir dan menyemprotnya dengan spray khusus.
Setelah menunjukkan aksi dan mendapat nilai dari setiap juri, anjing yang mendapat nilai tertinggi akan memperoleh hadiah dan trophy yang disiapkan panitia.
“Jadi bagi anjing-anjing yang sudah tiga kali memenangkan best in show dengan juri yang berbeda, berhak untuk menyandang gelar Indonesian Champion yang akan dilampirkan pada akte lahirnya,” urai Ronny.
Tak sekadar mendapat gelar, anjing tersebut akan mendapatkan gengsi yang tinggi di kalangan anjing lainnya. Tanpa harus menjualnya, anjing tersebut sudah bisa mengisi pundi-pundi sang pemilik.
Seperti misalnya ada anjing milik orang lain yang ingin dikawinkan dengan anjing tersebut. “Bisa saja si pemilik Anjing dengan gelar tersebut akan mematok harga tertentu dulu,” tukas pria berkaca mata ini. (*)
Makassar, 12 Desember 2010
Riuh gonggongan anjing memenuhi main hall Mal Graha Tata Cemerlang (GTC), Minggu, 12 Desember kemarin. Sebuah area beralaskan karpet berwarna hijau tampak dikelilingi beberapa kotak penyimpanan anjing.
Di beberapa sudut area tersebut nampak beberapa orang sedang sibuk menyisir dan membersihkan anjing piaraannya. Di sisi lain tampak beberapa pengunjung menyempatkan diri mengabadikan gambar dari berbagai anjing yang lucu tersebut.
Sepanjang dua hari kemarin, pengunjung Mal GTC memang mendapatkan hiburan yang berbeda. Di hari itu sedang berlangsung Pameran Anjing (dog show) Multi Trah. All Breed: Makassar 2nd Dog Show 2010, demikian tema even ini.
Even ini merupakan ajang yang dilaksanakan oleh Perkumpulan Kinologi Indonesia (PERKIN). Ada 78 ekor anjing dari seluruh Indonesia yang hadir memeriahkan even ini.
Beragam jenis anjing dari ukuran mini sampai yang super jumbo berkumpul dan menunjukkan tingkah yang lucu dan menggemaskan. Mulai dari jenis dobermann, golden retrievier, rottweiler, chihuahua, poodle, shihtzu, hingga pomeranian ada di ajang ini.
Tingkah pola hewan berkaki empat tersebut tak jarang mengundang gelak tawa. Seperti saat beberapa ekor golden retrievier yang tiba-tiba membuang kotoran di tengah arena ketika sedang dinilai oleh juri.
Ada lagi seekor anjing pomeranian yang tidak mau mengikuti perintah sang majikan untuk berlari mengelilingi arena. Anjing kecil tersebut tiba-tiba bersemangat ketika seekor anjing besar masuk di arena, sehingga mereka saling berkejaran.
Anjing-anjing ini tak sekadar pamer aksi dan gaya di tengah arena. Ada penilaian khusus yang diberikan setiap juri yang hadir ke setiap anjing yang tampil.
“Penilaiannya seperti pemeriksaan susunan gigi, kondisi bulu, serta keaktifan si anjing tersebut,” tutur Ronny Wirawan selaku ketua panitia acara ini. Dia melanjutkan, setiap anjing memiliki kriteria masing-masing, mulai dari tingginya, berat, dan bulunya.
Juri yang datang menilai pada even ini pun tidak asal pilih. Di antaranya Graham Kerr dari Australia, Andi Hudono, dan Agus Wardhana. Ketiganya telah berpengalaman di bidang hewan khususnya jenis anjing.
Ronny mengungkapkan, ajang ini diadakan tidak hanya untuk menggalakkan kecintaan terhadap anjing. Melalui even ini PERKIN mengharapkan agar anjing jenis Trah dapat diangkat dan dikenal secara umum.
Anjing dikenal sebagai salah satu satwa yang paling setia, maka tak heran bila banyak orang yang ingin dan gemar memliharanya. Namun, untuk membesarkan anjing, butuh perawatan yang ekstra serta tentunya biaya yang tidak sedikit.
Seperti yang diungkapkan salah seorang peserta dari Bandung, Jesselyn. Dalam pameran ini, dia memboyong dua anjing untuk ikut lomba.
“Setiap hari harus diberi makanan yang cukup dan sesuai, selain itu perlu dimandikan setiap tiga hari sekali,” urai wanita berkulit putih ini. Untuk menjaga bulu anjingnya tetap indah, Jesselyn selalu menyisir dan menyemprotnya dengan spray khusus.
Setelah menunjukkan aksi dan mendapat nilai dari setiap juri, anjing yang mendapat nilai tertinggi akan memperoleh hadiah dan trophy yang disiapkan panitia.
“Jadi bagi anjing-anjing yang sudah tiga kali memenangkan best in show dengan juri yang berbeda, berhak untuk menyandang gelar Indonesian Champion yang akan dilampirkan pada akte lahirnya,” urai Ronny.
Tak sekadar mendapat gelar, anjing tersebut akan mendapatkan gengsi yang tinggi di kalangan anjing lainnya. Tanpa harus menjualnya, anjing tersebut sudah bisa mengisi pundi-pundi sang pemilik.
Seperti misalnya ada anjing milik orang lain yang ingin dikawinkan dengan anjing tersebut. “Bisa saja si pemilik Anjing dengan gelar tersebut akan mematok harga tertentu dulu,” tukas pria berkaca mata ini. (*)
Makassar, 12 Desember 2010
Langganan:
Postingan (Atom)