Apa jadinya bila isu perusakan lingkungan oleh korporasi besar dijadikan tema dalam film anak-anak? Isu yang cukup berbobot ini ternyata dengan mudah mengalir lewat dongeng tentang Mia and The Migoo. Film asal Perancis ini berkisah tentang Mia, seorang gadis kecil yang melakukan perjalanan ke Puerto del Migos demi mencari ayahnya. Ayahnya yang bernama Pedro adalah seorang pekerja di proyek mega properti milik pengusaha perancis bernama WiIliam. Meskipun Mia masih kecil, dia tidak takut untuk pergi jauh sendiri dan berhadapan dengan beragam jenis rintangan. Mia terus berjalan meskipun orang-orang bilang ada mitos tentang raksasa di hutan tempat proyek properti tersebut berada.
Demi tercapainya pembangunan resor tengah hutan yang menarik, si pengusaha berniat untuk menyingkirkan pohon terbesar di lingkungan itu. Padahal, pohon itu adalah pohon kehidupan yang dijaga oleh Migoo. William (pengusaha) juga tidak memperhatikan keselamatan pekerjanya ketika diberi tahu bahwa Pedro (ayah Mia), salah satu pekerja menghilang dalam timbunan batu. Yang ia tahu hanya proyeknya menarik banyak investor dan selesai tepat waktu. Mia yang berpetualang sendirian ke dalam hutan proyek akhirnya berteman dengan Migoo dan berteman dengan Aldrin, anak pengusaha tersebut, ikut menjadi penyelamat pohon kehidupan.
Petualangan yang seru dan diselingi dengan komedi khas anak-anak ini membuat kita penasaran dengan akhir cerita. Apakah Mia berhasil bertemu dengan Ayahnya yang hilang. Akankah pohon kehidupan itu selamat dari gusuran pemilik proyek? Pertanyaan akan dijawab dengan baik oleh keteguhan hati Mia di film kartun animasi ini.
Pesan-pesan yang terkandung di dalamnya juga sangat bagus untuk disampaikan pada anak-anak. Ada pesan tentang menjaga lingkungan dan keharmonisan ekologi dan keberanian Mia yang patut dicontoh oleh anak-anak. Selain soal lingkungan, film ini juga berhasil menyindir maskulinitas, yang direpresentasikan oleh WiIliam.
Bagaimana perilaku maskulin yang cenderung merusak lingkungan untuk suatu tujuan. Penonton yang mayoritas anak-anak pun terlihat antusias dengan film ini yang diekspresikan lewat tawa dan teriakan penyemangat.
Sajian bagi anak-anak yang menghibur sekaligus mendidik seperti film ini mungkin bisa dihitung dengan jari. Untungnya beberapa bulan terakhir ini diadakan beberapa festival film anak. Selain Goelali film festival, ada Kidsfest film festival yang digagas oleh Yayasan Kalyana Shira. Festival film anak internasional pertama di Indonesia yang diselenggarakan 17-26 Juli 2009 ini menyajikan beragam pilihan genre film anak-anak. Mulai dari animasi hingga film petualangan.
Semoga ke depannya semakin banyak acara khusus anak-anak yang mendidik sekaligus menyenangkan untuk mereka ikuti guna mengisi hari liburan.
dikutip dari : www.jurnalperempuan.com