Sabtu, 05 September 2020

Menggali dan Mengasah

Mencoba menggali ingatan dan mengasah kemampuan. Itulah salah satu hal yang tiba-tiba muncul di dalam benak saya pagi hari ini. Kerinduan untuk merangkai kata-kata menjadi kalimat dan sebuah tulisan kembali membuncah. Layaknya anak bayi yang sedang dalam proses bertumbuh, saat ini saya sedang memulai belajar merangkak dan berdiri. Dibutuhkan kesabaran dan latihan yang tekun agar bisa sampai ke tahap berjalan dan berlari. Teringat komentar seorang senior redaktur di tempat saya merintis karir jurnalis, ketika berjumpa dengan saya di tempat kerja yang baru, yang bukan di bidang jurnalistik. "Jangan sampai mati kemampuan menulismu Diel!" 

 

Kalimatnya singkat tapi senantiasa tertancap di ingatan saya. Saat ini, saya sepertinya sedang dalam keadaan 'keram otak'. Harus banyak memullai membaca dan belajar kembali agar dapat mengasah hobby yang dulu saya tekuni tersebut. Untuk itu, saya mencoba mengawalinya dengan 'mencoret-coret' kembali blog yang sudah sangat berdebu dan dipenuhi sarang labalaba ini. Setidaknya saya harus mencoba membuat tulisan-tulisan pendek minimal 2 sampai 3 kali dalam seminggu. Karena jika tidak, 'keram' tersebut bisa menyebabkan 'kematian' di otak saya. 

 

Makassar, lima September DuaribuDuapuluh

Kamis, 19 Maret 2015

Kamis dinihari

Insting laiknya seekor hewan liar. Yup,, mungkin inilah salah satu anugerah (gift) yang saya dapatkan. Seringkali saya mendapati diri saya mengetahui suatu hal yang sifatnya rahasia jauh sebelum orang banyak mengetahui hal tersebut. Terkadang bila orang-orang sudah mulai "ribut" & "heboh" memperbincangkan hal tersebut, saya hanya bisa tersenyum simpul sambil geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya hal itu sesuai dengan dugaanku!! Seringkali muncul godaan untuk bergabung ke dalam kelompok rumpi tersebut sambil mengumbarkan bahwa hal yang mereka perbincangkan telah lebih dulu saya ketahui. Tapi saya harus bisa untuk menahan diri. Karena belum tentu hal tersebut layak untuk dijadikan santapan umum. Saya harus bisa memposisikan diri sebagai orang yang menjadi objek perbincangan (si empunya rahasia). Pasti akan terasa tidak enak bila menjadi bahan omongan banyak orang.

Pada intinya, fenomena yang banyak terjadi adalah, begitu mudahnya orang mengingat dan mengembar-gemborkan kejelekan orang lain dibandibgkan kebaikannya. Secuil kejelekan akan dengan mudahnya melekat di ingatan orang banyak dibandingkan segudang kebajikan.

Saran saya, dari pada sibuk memikirkan urusan orang, ada baiknya ke swalayan atau pasar beli cermin trus ngaca. Ini terutama buat para manusia yang merasa diri sempurna.

odieL's_coRner
03:35_190315

Sabtu, 11 Februari 2012

Inilah beberapa orang yang pernah dan berkenan menjadi narasumber saya :



Ini adalah Drs. Abdul Madjid Sallatu, MA; seorang dosen yang dengan rendah hati dan mau berbagi kisah sepanjang perjalanan hidup dan karirnya kepada saya.






Sr. Regina Sassa, JMJ; adalah biarawati yang telah lebih dari enam dekade mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan dan sesamanya.





Yang ini adalah Prof.Dr.Ir. Ambo Ala, MS; seorang dosen yang juga peduli akan keadaan lingkungan utamanya pertanian di Indonesia.

WAWANCARA = KOMUNIKASI

Ada pertanyaan yang harus dijawab, dan tentunya harus ada jawaban yang sesuai dengan pertanyaan yang diajukan . Selain itu, pelakunya ada dua orang atau lebih, di mana salah seorang atau beberapa mengajukan pertanyaan kepada seorang atau sebaliknya. Kira-kira begitulah penjelasan sederhana mengenai sebuah proses wawancara. Pada intinya, ada orang yang bertanya (penanya atau pewawancara), dan ada orang yang ditanya atau diwawancara.



Beberapa kali dalam hidup kita pasti pernah mengalami suatu kejadian atau momen yang sama seperti dijelaskan di atas. Entah itu wawancara kerja, mewawancarai orang, ataupun sekedar tanya-jawab dengan beberapa teman. Demikian halnya dengan saya, bermacam-macam wawancara pernah saya temui dan lakukan.



Di awal saya terjun ke dunia kerja, sama seperti pekerjaan lainnya yakni ada saat saya harus melalui proses wawancara dengan pimpinan perusahaan maupun orang-orang yang berkepentingan dalam hal menerima karyawan baru. Waktu itu atas rekomendasi seorang kawan, saya mendaftarkan diri di sebuah perusahaan media cetak. Saya tidak perlu bagaimana proses sebelum saya mendaftar, tapi yang saya ingin ceritakan adalah bagaimana saya diwawancara. Saya memang akhirnya dinyatakan lolos berkas, dan berhak mengikuti tes tulis dan wawancara. Ternyata proses wawancara yang harus saya hadapi jauh melenceng dari yang ada di pikiran saya. Tak hanya seorang yang mewawancarai saya, tapi sebuah tim yang berjumlah empat orang. Secara bergiliran saya mendatangi orang-orang tersebut. Meskipun ruangannya ber-AC, tapi keringat dingin sempat mengalir dari dahi saya. Beragam pertanyaan tentang kegiatan saya serta pertanyaan yang menguji pengetahuan umum saya diajukan. Puji Tuhan saya bisa melalui semua itu dengan lancar, meskipun ada beberapa jawaban yang meragukan dan saya diterima menjadi reporter.



Maka mulailah pengalaman pertama saya untuk terjun di dunia jurnalistik. Di pekerjaan yang saya geluti ini, wawancara menjadi sebuah kebutuhan. Saya senantiasa terjun ke lapangan untuk meliput suatu peristiwa atau kejadian yang menarik. Karena tanpa melakukan wawancara kepada narasumber, tentu saya tidak akan menghasilkan data yang sesuai dan akurat untuk diberitakan.



Pada awalnya memang saya agak canggung untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada orang yang sama sekali tidak dan belum saya kenal. Namun lama kelamaan saya akhirnya terbiasa, dan untuk urusan mewawancarai narasumber, saya sangat menikmatinya. Apalagi bila saya mendapatkan kesempatan mewawancara narasumber yang dengan senang hati berbagi kisah dan cerita serta tidak pelit memberi informasi. Kegiatan ini saya lalui dengan semangat dan antusias, meskipun tak jarang kejenuhan menerpa.



Dari pengalaman saya selama kurang lebih enam bulan bekerja di dunia cetak, kegiatan wawancaralah yang mendominasi. Namun ada masa saya akan mengalami gugup dan stress bila menghadapi wawancara. Ya,, saya sangat (bagaimana ya membahasakannya?) sangat tidak menikmati bila posisi wawancara tersebut ditukar, di mana di saya yang harus ditanya-tanya. Sangking tidak fokusnya, terkadang kata-kata dan jawaban yang ada di dalam pikiran saya malah jadi tidak terucapkan dan terlupakan. >>kerja lidah saya tidak sejalan dengan otak<<. Salah satu contoh di mana saya berada pada posisi yang diajukan pertanyaan adalah ketika menghadapi para penguji saat seminar proposal judul dan ujian meja. Beruntung di kedua momen tersebut saya tidak merasakan grogi ataupun ketakutan yang berlebihan sehingga akhirnya kedua ujian tersebut bias berjalan dengan lancar. (buktinya sekarang di belakang namaku sudah ada tambahan empat huruf, hehe). Kesempatan lain saya mengalami masa diwawancarai adalah ketika mendaftarkan diri di sebuah perusahaan retail (toko buku). Di sana saya dua kali diwawancara. Yang pertama oleh dua orang wanita yang cukup memiliki jabatan tinggi di sana. Keduanya sempat bertanya tentang hobi dan keahlian yang saya miliki. Selain itu mereka juga sempat menanyakan kebiasaan buruk (bad habit) saya. Aduh, saya pun akhirnya menjawab sesuai dengan apa yang menurut (kesadaran) saya ada pada diri saya. Pada wawancara kedua saya harus berhadapan dengan pimpinan toko tersebut. Well, wawancara berjalan lancar dan santai, bahkan terbilang agak lama karena banyak pertanyaan yang diajukan dan tentunya banyak jawaban yang kemudian menjadi cerita. Pada intinya wawancara dengan pimpinan itu tidaklah se-horror yang pernah saya lihat di film-film maupun yang sempat terlintas di benak saya. Terkadang kita memang tidak sadar bahwa proses wawancara yang bila disederhanakan dapat disebut sebagai dialog atau komunikasi menjadi salah satu partikel kehidupan. Contohnya saja ketika bertemu dengan orang baru saat memasuki lingkungan baru pasti diawali saling bertanya tentang diri masing-masing. Seperti halnya yang pernah saya alami, wawancara dengan beberapa narasumber yang low profile akan menumbuhkan keakraban. Jadinya, proses wawancara ataupun perkenalan selanjutnya akan berjalan dengan baik dan menyenangkan.


Se-introvert apapun seseorang, pastilah harus bersosialisasi. Saya pun mengakui sebagai orang yang tertutup, tapi sampai sekarang saya bersyukur karena memiliki banyak teman yang baik hati dan menyenangkan.



Makassar, 11 Ferbuari ‘12

Jumat, 07 Januari 2011

Dari Mercusuar, Lalu Tugu, Kelak Hilang

*Jejak Situs di Depan Fort Rotterdam


JEJAK perjalanan sejarah Makassar semakin memiriskan. Bahkan terancam punah.
***
SEJUMLAH kendaraan berlalu lalang di sepanjang Jalan Ujung Pandang. Tepat di seberang Fort Rotterdam berdiri sebuah tugu atau monumen berwarna putih. Bentuk tugu itu menyerupai sebuah pilar dengan sebuah tulisan “Pahlawan Indonesia”.

Tugu setinggi sekira lima meter ini dikeliling pagar seng bercat biru. Tampaknya di dalamnya akan dibangun sebuah bangunan baru. Ini terlihat dari tulisan “dilarang masuk” berwarna merah.

Tidak banyak warga yang tahu kalau pada masa lampau, beberapa ratus tahun lalu di tempat itu berdiri sebuah mercusuar buatan Belanda. Namun kini, sisa-sisa fisik bangunan tersebut sama sekali tidak ada.

Dikisahkan salah seorang staf dokumentasi dan publikasi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Makassar, Mohammad Natsir, pembangunan mercusuar tersebut berlangsung pada masa pendudukan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda di Benteng Ujungpandang (Fort Rotterdam).

“Pendudukan VOC di Benteng Ujung Pandang dimulai pada tahun 1627, baru kemudian mengganti nama benteng menjadi Fort Rotterdam,” tutur Natsir menjelaskan.

Saat itu, Bandar Somba Opu diruntuhkan, sehingga aktivitas perdagangan berpusat di Pelabuhan Makassar. Mengingat kekuatan VOC di bidang perdagangan harus melalui jalur laut, maka di jaman itu diadakan pembangunan besar-besaran untuk kelengkapan fasilitas Pelabuhan Bandar Makassar (sekarang Pelabuhan Soekarno Hatta). Di antaranya seperti beberapa gudang penyimpanan serta mercusuar di depan bangunan Benteng Fort Rotterdam.

Mercusuar itu dibangun sebagai tempat untuk memantau jalannya alur lalu lintas perdagangan laut Makassar. Sengaja ditempatkan di depan Benteng Fort Rotterdam untuk memudahkan VOC dalam melakukan pemantauan.

“Mercusuar tersebut merupakan salah satu bagian terpenting dalam kegiatan perdagangan Pelabuhan Bandar Makassar,” ucap Natsir, Jumat, 7 Januari.
Dia menyebutkan, tidak ada data pasti mengenai tahun dimulainya pembangunan mercusuar tersebut.

Dengan proses pemantauan yang aktif dan terarah, tak heran bila VOC berhasil menjadikan Pelabuhan Makassar menjadi sebuah pelabuhan bebas. Pada jaman itu, sekitar abad 18-19, Pelabuhan Makassar sedang berada pada masa kejayaannya.

Pada masa itu, tingkat pertumbuhan ekonomi sedang dimulai. Ini ditunjukkan dengan dibangunnya sebuah bank di Jalan Nusantara, pada tahun 1900-an. Bank Javanese tersebut juga menjadi salah satu bagian dari perjalanan sejarah Kota Makassar.

Sayangnya kejayaan Pelabuhan Makassar pada waktu itu tidak berlangsung sampai sekarang. Natsir menyebutkan, nilai historis kota jangan sampai dihilangkan, karena ini merupakan salah satu kunci Makassar untuk menuju kota dunia.

Kini, tugu itu sepertinya terancam keberadaannya dengan pagar seng yang mengitarinya. Di sekitarnya pun kini sedang berlangsung pembangunan yang lainnya. Entah berapa bukti sejarah Makassar lagi yang akan hilang dan punah. (*)

Jalan Ujung Pandang, Makassar
07 Januari 2011